Berita Semarang
Musisi Belanda Belajar Gamelan dan Wayang Kulit di Teater Lingkar Semarang
Dalam proses belajar, musisi Belanda itu didampingi oleh Bob Wardhana dari Kedutaan Besar Indonesia
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sanggar Seni Teater Lingkar Semarang kembali menunjukkan perannya sebagai ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin mendalami seni dan budaya Jawa.
Kali ini, sejumlah musisi asal Belanda berkesempatan belajar gamelan Jawa dan wayang kulit belum lama ini di sanggar yang yang bermarkas di Jalan Gemahsari, Kedungmundu, Kec. Tembalang, Kota Semarang.
Para musisi tersebut datang ke Indonesia dengan sejumlah agenda seni.
Minggu lalu, mereka tampil bersama band dalam Festival Kota Lama Semarang, kemudian melanjutkan perjalanan ke Solo untuk mengikuti workshop karawitan.
Tak sampai disitu, setelah belajar gamelan di Teater Lingkar, dilanjutkan agenda workshop musik di Unika Semarang, sebelum akhirnya bertolak ke Jakarta untuk tampil dan kembali ke Belanda.
Pengasuh Sanggar Seni Teater Lingkar, Mbak Sari, mengaku bangga bisa menjadi tuan rumah sekaligus fasilitator bagi para tamu mancanegara yang ingin mengenal budaya Jawa lebih dekat.
“Seneng banget bisa menjadi tuan rumah yang baik. Teater Lingkar, yang di dalamnya ada kelompok Sindhu Laras, siap memfasilitasi siapa saja yang ingin belajar gamelan, mencoba wayang kulit, atau bahkan sekadar nembang Jawa,” ungkapnya, Rabu (10/9/2025).
Dalam proses belajar, musisi Belanda itu didampingi oleh Bob Wardhana dari Kedutaan Besar Indonesia. Bob pun ikut larut dalam suasana belajar gamelan.
“Walaupun waktunya sedikit, pengajar di sini sangat runtut dalam memberikan materi. Jadi kami tidak hanya sekadar bermain, tapi juga dikenalkan teknik dasar gamelan. Hanya dalam tiga jam, tiga lagu sudah bisa dimainkan dengan baik, bahkan sekaligus dinyanyikan,” katanya.
Beberapa tembang tradisional seperti Suwe Ora Jamu dan Tul Jaenak berhasil dimainkan dan dinyanyikan dengan apik.
Ketua Teater Lingkar Semarang, Sindhunata Gesit, menegaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen menghidupkan budaya Jawa lewat berbagai cara, salah satunya dengan membuka ruang bagi generasi muda maupun masyarakat internasional.
“Saya tidak menampik hadirnya budaya luar, karena kesenangan itu tidak bisa dipaksa. Tapi warisan budaya bangsa jangan ditinggalkan. Gamelan, ketoprak, wayang orang, silakan tetap ditonton. Kami juga berusaha membuat pertunjukan wayang kulit lebih luwes agar bisa dinikmati semua kalangan, termasuk anak muda,” jelas Sindhu.
Menurutnya, seni bukanlah sesuatu yang benar atau salah, melainkan ruang berekspresi yang bisa terus dikolaborasikan dengan zaman. (*)
| Modal Jajan dan Parkir di Semarang, Warga Bisa Bawa Pulang iPhone 17 Pro Max di Program Ijolke 2026! |
|
|---|
| Dugaan Invoice Palsu di Pusaran Kasus Sritex, Pengacara: Bank DKI Harusnya Bisa Selamat |
|
|---|
| Hadapi El Nino, Pemkot Semarang Siapkan Cadangan 1 Juta Liter Air |
|
|---|
| Di Balik PROPER Hijau PLN Tambak Lorok, Ada Upaya Senyap Menjaga Lingkungan dan Mengubah Wajah Desa |
|
|---|
| Semarang Bakal Jadi Tuan Rumah Dialog Nasional Terkait MBG, Tiga SPPG Jadi Percontohan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250910_LINGKAR.jpg)