Readers Note
Mendidik Anak Generasi Alpha Melalui Lighthouse Parenting
Kisah nyata datang dari seorang ibu muda bernama Rani (34), nama samaran, yang dulu dikenal sebagai “helicopter mom”
Mendidik Anak Generasi Alpha Melalui Lighthouse Parenting
Oleh Dr. Elinda Rizkasari, SPd, MPd | Dosen Prodi PGSD Unisri Surakarta
DI Tengah derasnya tren pengasuhan yang silih berganti di media sosial, istilah Lighthouse Parenting kini mencuri perhatian banyak orang tua. Gaya asuh ini disebut mampu menyeimbangkan kasih sayang dan batasan, antara kebebasan dan tanggung jawab. Di era digital yang bising, orang tua dituntut tidak hanya menjadi “teman” bagi anak, tetapi juga mercusuar cahaya penuntun yang tetap bersinar meski ombak zaman bergelora.
Kisah nyata datang dari seorang ibu muda bernama Rani (34), nama samaran, yang dulu dikenal sebagai “helicopter mom” orang tua yang terlalu protektif dan mengatur setiap langkah anaknya. Ia mengaku panik ketika putrinya, Naya (10) (nama samara), mulai menolak bercerita dan lebih banyak menghabiskan waktu bermain gim daring.
“Saya merasa kehilangan arah, seperti kehilangan koneksi,” ujarnya lirih. Hingga suatu hari, Rani membaca tentang Lighthouse Parenting. Ia mulai mencoba pendekatan baru: tidak lagi selalu menasihati, tetapi mendengarkan. Ia belajar memberi ruang bagi anak untuk menentukan pilihan, namun tetap hadir saat dibutuhkan. Dalam beberapa bulan, hubungan mereka berubah. “Sekarang Naya sering bercerita sendiri, bahkan bertanya pendapat saya,” katanya tersenyum.
Orangtua Gelisah
Cerita Rani bukan kasus tunggal. Fenomena ini mencerminkan kegelisahan banyak orang tua masa kini. Di satu sisi mereka ingin anak mandiri dan tangguh, tetapi di sisi lain takut anak salah langkah di dunia digital yang penuh risiko. Di tengah dilema itu, Lighthouse Parenting menawarkan jalan tengah: kehadiran yang hangat tanpa intervensi berlebihan.
Penelitian terbaru mendukung efektivitas pendekatan ini. Studi University of Pennsylvania (2024) menemukan bahwa anak-anak yang diasuh dengan gaya Lighthouse memiliki regulasi emosi dan rasa percaya diri lebih baik dibanding anak yang diasuh dengan pola otoriter atau permisif.
Sementara riset American Psychological Association menunjukkan, keseimbangan antara kebebasan eksplorasi dan dukungan emosional orang tua meningkatkan ketahanan psikologis anak di era digital. Lebih jauh lagi, pendekatan ini mampu menekan risiko kecanduan gawai hingga 30 persen dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah sebesar 28 % .
Namun di balik idealisme itu, realitas tidak selalu mudah. Banyak orang tua menghadapi tekanan ekonomi, jam kerja panjang, dan banjir informasi dari media sosial yang menampilkan “parenting sempurna”. Fenomena comparison culture kecenderungan membandingkan diri dengan orang tua lain menimbulkan rasa gagal dan cemas. Akibatnya, sebagian orang tua menjadi pasif dan membiarkan anak larut dalam dunia digital tanpa pengawasan berarti.
Bukan Pengendali
Solusi tidak selalu kompleks. Pertama, jadilah mercusuar yang stabil, bukan matahari yang membakar. Artinya, orang tua cukup menjadi penuntun, bukan pengendali. Luangkan waktu untuk family talk night setiap minggu, tanpa gawai, agar ada ruang jujur untuk mendengar dan berbagi cerita.
Kedua, libatkan anak dalam “perjanjian digital keluarga” yang disepakati bersama kapan boleh menggunakan gawai, bagaimana bersikap di dunia maya, dan apa konsekuensinya bila dilanggar. Pendekatan ini menumbuhkan tanggung jawab tanpa tekanan. Ketiga, bangun jejaring dukungan. Sekolah, komunitas, dan psikolog keluarga bisa menjadi mitra penting dalam menumbuhkan pola asuh yang reflektif dan sehat.
Menjadi orang tua di era Generasi Alpha memang tidak mudah. Anak-anak tumbuh di tengah derasnya arus informasi, budaya instan, dan tekanan sosial. Namun sebagaimana mercusuar yang kokoh di tepi laut, kekuatan orang tua terletak pada konsistensi, bukan kesempurnaan. Lighthouse Parenting mengajarkan bahwa anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar, melainkan yang selalu ada.
Di tengah gelombang perubahan dan distraksi digital, mungkin inilah saatnya setiap keluarga membangun mercusuar kecil di rumahnya. Cahaya yang tidak menyilaukan, tetapi cukup terang untuk memberi arah. Agar anak-anak kita tak hanya tahu ke mana harus pergi, tetapi juga tahu ke mana harus kembali kepada rumah yang hangat, mendengar, dan memahami. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Dr-Elinda-Rizkasari-dosen-PGSD-Unisri-Surakarta.jpg)