Berita Semarang
Cerita Adit Dua Jam Main Bareng Anak di Wisma Perdamaian Semarang, Ikuti Program Cilukba
Di Wisma Perdamaian Semarang, bapak dan anak ini bermain bersama dalam kegiatan yang diadakan Yayasan Keluarga Kita pada program Cilukba.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Adit bersama keluarga kecilnya melaju dari Tembalang Semarang sekira pukul 07.00.
Pagi yang masih bening ketika mereka menuju Gedung Wisma Perdamaian di kawasan Tugu Muda Semarang, Minggu (30/11/2025).
Sesampainya di sana, Aditya Kusumawinata (33) menurunkan langkahnya, menggendong erat anak laki-lakinya berusia 3 tahun yang hari itu jadi partner utamanya.
Baca juga: Mahasiswa USM Sosialisasikan Kepedulian Terhadap Keamanan Data Pribadi di SMK Negeri 7 Semarang
• Cerita Dimas Bayar Parkir di MT Haryono Semarang, Sudah Siapkan QRIS Malah Suruh Tunai
Mereka akan mengikuti sesi main sama bapak yang diadakan Yayasan Keluarga Kita pada program Cilukba (Cerita Lan Dolanan Kaliyan Bapak).
Dia masuk ke ruangan utama. Di situ sudah ada mentor parenting untuk membantu para ayah diajak bermain, membaca cerita, dan membuat prakarya bersama para buah hatinya.
Adit awal mengetahui acara ini dari sosial media miliknya. Karena merasa bisa lebih dekat dengan anak lanang jagoannya, dia mengajak anak dan istri untuk ikut ke program main bareng bapak.
Sementara istrinya berbelok ke ruangan lain, menikmati waktu jeda sambil menyimak materi parenting. Sesuatu yang jarang bisa dia lakukan di keseharian mereka.
Bagi Adit, dua jam bermain tanpa distraksi itu terasa seperti ruang yang tak pernah dia sisihkan selama ini.
Rutinitas kerja membuatnya hanya punya waktu beberapa jam setiap malam untuk bertemu anak. Itu pun sering lewat dengan cepat, tenggelam di antara kelelahan dan pekerjaan yang belum selesai.
Di Wisma Perdamaian Semarang, dia akhirnya bisa menatap anaknya tanpa terburu-buru.
“Main sama Bapak itu biar lebih dekat. Lebih kompak, lebih ngerti tumbuh-kembang anak itu sampai mana," ujarnya.
Dari kegiatan membaca cerita, membuat prakarya sederhana, atau bermain ular naga yakni permainan interaksi, dimana para motivator parenting membuat seperti gua dan para ayah bersama anaknya menerobos gua tersebut.
Pada sesi dua jam bermain dengan anak, Adit menemukan hal yang selama ini terlewatkan olehnya.
“Ternyata anak saya bisa ini oh ternyata masih kurang di sini,” ujarnya.
Nada suaranya campuran antara terkejut dan lega.
Ada semacam kesadaran baru yang menyeruak, bahwa anaknya tumbuh lebih cepat dari yang dia kira dan dia tak ingin melewatkannya lagi.
Di rumah, dia sudah mulai membatasi gawai untuk anaknya dan lebih memilih mengasuh langsung.
“Weekend saja, itu pun cuma sejam.” ujarnya.
Dari kegiatan hari itu, dia akan membawa pulang beberapa permainan sederhana untuk diterapkan lagi.
“Sebisa mungkin saya terapin,” katanya.
Baca juga: Seru, Guru SMPN 22 Semarang Lomba Fashion Show, Siswa Jadi Jurinya
• Kendal Belum Punya Pusat Oleh-oleh, Bupati Tika: Saya Juga Sering Ditanya Tamu Daerah Lain
Para Istri Lakukan Me Time
Sementara Adit bermain, Viftah istrinya mengikuti sesi yang dihadiri para ibu.
Waktunya terisi dengan obrolan parenting, termasuk materi yang menurutnya paling menggugah tentang nilai keluarga.
“Selama ini rumah tangga jalan saja, enggak pernah benar-benar mikir: nilai apa yang sebenarnya kami pegang?” ucapnya.
Dia ingin membawa pulang wawasannya sendiri. Bahwa keluarga tidak hanya berjalan dari hari ke hari, tapi juga butuh fondasi yang disepakati bersama.
Dia sama sekali tidak waswas anaknya bermain dua jam bersama sang ayah.
“Anak saya sudah terbiasa pergi sama bapaknya,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, justru penting memberi ruang bagi keduanya untuk dekat.
“Orangtua itu bukan cuma ibu atau ayah, tapi dua-duanya. Anak juga butuh sosok bapak,” katanya.
Semarang Jadi Titik Terakhir di 2025
Di balik “Main Sama Bapak” ini, ada Siti Nurandini, Direktur Keluarga Kita.
Dia menyebut, kegiatan ini lahir dari satu kegelisahan lama: bagaimana membuat para ayah terlibat dalam pengasuhan.
“Kami lihat materi parenting itu 95 persen pesertanya ibu,” tuturnya.
“Jadi kami cari cara supaya bapak mau belajar. Format bermain ini kami coba pertama kali di Hari Ayah 2022,” jelasnya.
Menurutnya, ayah tidak bisa diajak pelatihan lewat ceramah panjang.
Mereka perlu pengalaman langsung.
Maka dibuatlah permainan-permainan sederhana dari alat yang mudah ditemukan di rumah seperti karet gelang, spidol, kertas lipat.
“Permainan itu menstimulasi empat aspek perkembangan anak motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional,” jelasnya.
Tahun ini mereka keliling lima kota dan Semarang menjadi titik terakhir sekaligus yang paling ramai pesertanya.
Dua ruangan mereka jalankan bersamaan: ruang ayah-anak dan ruang khusus ibu agar tidak “ikut campur” sekaligus memberi waktu istirahat.
Strategi itu sukses menciptakan suasana yang benar-benar fokus.
Siti berharap para ayah membawa pulang satu kebiasaan baru: bermain 15 menit setiap hari bersama anak sudah memberi dampak besar.
“Bonding itu kuat sekali pengaruhnya. Dari kepercayaan diri anak sampai prestasi akademik, semua naik ketika ayah terlibat.” katanya. (*)
Yayasan Keluarga Kita
Semarang
Bapak dan Anak Bermain Bersama
parenting
Deni Setiawan
Tribunjateng.com
| Pengakuan Wanita Autis Korban Dugaan Sekerasan Seksual Oknum LSM, Dilakukan di Kamar hingga Mobil |
|
|---|
| Identitas Perempuan yang Ditemukan Tewas di Sungai Silandak Semarang, Hanyut saat Berangkat Kerja |
|
|---|
| Beda Wajah April Korban Dugaan Malpaktik Klinik Estetika di Semarang , Kini Mati Rasa Bicara Susah |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Maryam Korban Banjir di Semarang Ditemukan 1 Kilometer dari Lokasi Hanyut |
|
|---|
| Mobil Terperosok Nyaris Terseret Arus Sungai Bringin Semarang, Pagar Talud 40 Meter Ambrol |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251130-_-Bapak-dan-Anak-di-Wisma-Perdamaian-Semarang.jpg)