Kesenian
Festival Teater Gema 2025 Kembali Digelar, Beikut Daftar Penampilnya
Kebangkitan ekosistem teater pelajar dan mahasiswa di Jawa Tengah mulai terasa kembali setelah jeda panjang pandemi.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Kebangkitan ekosistem teater pelajar dan mahasiswa di Jawa Tengah mulai terasa kembali setelah jeda panjang pandemi.
Lima tahun tanpa ruang kompetisi membuat kebutuhan untuk mengekspresikan kreativitas di panggung semakin mendesak.
Di tengah situasi itu, Festival Teater Gema 2025 hadir menjadi pemantik baru yang menghubungkan kembali para pelaku seni muda di Jateng. Hal itu dilakukan oleh unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Gema Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
Mereka menjadi salah satu penggerak yang menjaga kesinambungan ruang berkesenian tersebut.
Baca juga: Berubah Konsep Layaknya Bioskop Mini: Perpustakaan Blora Kini Punya Mini Teater Senilai Rp 250 Juta
Melalui Festival Teater Gema 2025, geliat teater kembali memiliki wadah untuk berkembang mengikuti dinamika zaman dan teknologi.
Ajang tahunan yang telah berlangsung sejak 2000 ini sempat terhenti pada 2019, tepatnya vakum akibat Pandemi Covid-19. Setelah istirahat lima tahun, ajang ini kembali digelar pada 8 sampai 10 Desember 2025 mendatang.
Tahun ini, festival menghadirkan lima kelompok teater pelajar SMA/SMK, tiga grup teater mahasiswa se-Jateng, serta memilih 10 naskah monolog terbaik untuk dibukukan. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp 25 juta.
Rangkaian festival dibuka pada Senin (8/12), di Lantai 7 gedung pusat Kampus UPGRIS Semarang.
Setelah dua hari kompetisi drama dan malam penganugerahan, hari terakhir akan ditutup dengan peluncuran buku kumpulan naskah monolog terpilih.
Pada tangkai drama, penjurian dilakukan oleh Yogi Swara Manitis Aji, Apito Lahire, dan Tentrem Lestari. Sementara kurator naskah monolog adalah Asa Jatmiko.
Wakil Rektor III UPGRIS Sapto Budoyo menegaskan pentingnya festival ini sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa, bukan hanya sebagai ajang pentas seni.
“Komitmen UPGRIS tidak hanya memberikan bekal hard skill, tetapi juga soft skill. Di UPGRIS ada banyak organisasi mahasiswa, dan hari ini UKM Teater Gema membuktikan kemampuan mereka memanajemen sebuah festival,” ujarnya.
Sapto menilai festival ini juga berfungsi membuka jalur regenerasi teater pelajar SMA/SMK. Sejak pertama digelar pada 2000, Teater Gema konsisten menghadirkan festival mulai tingkat kota, provinsi hingga nasional.
“Komitmen kami juga diperkuat dengan sinergi pemerintah, seperti dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang,” ujarnya.
Dukungan serupa datang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang.
Analis Informasi Kebudayaan, Hadi Susanto, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Semarang siap bersinergi dengan kampus-kampus dalam mencetak talenta seni pertunjukan.
| Kisah Sidney Siswa SMA Juara Kompetisi Tari Nasional, Tantangan Terberat Membagi Waktu Sekolah |
|
|---|
| Pameran Arsip Beyond The Notes Andi Bayou, Kisah di Balik Karya Musik |
|
|---|
| Ketika Dua Dalang dan Dua Langgam Bersatu Dalam Pergelaran Wayang Kulit 'Wisanggeni Kridha' |
|
|---|
| Apa Itu Kesenian Manongan Asal Purbalingga? Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional |
|
|---|
| Komunitas Gandrung Sastra asal Pati Pentaskan Monolog dan Bedah Buku Kumcer "Jabrik" di Kudus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251208_Teater-Pelajar.jpg)