Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Normalisasi Sungai di Semarang dari Sedimentasi Tinggi Terkendala Anggaran

Beberapa sungai seperti Sungai Plumbon dan Bringin saat ini mengalami pendangkalan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
APPLE
Tribun Jateng/Tri Susanto 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG  - Sedimentasi di sejumlah sungai Semarang mulai meningkat dan berdampak pada kapasitas aliran sungai.

Beberapa sungai seperti Sungai Plumbon dan Bringin saat ini mengalami pendangkalan.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Sudarto mengatakan, Sungai Bringin sudah mengalami penumpukan sedimen, namun pengerukan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Baca juga: Resbob Diburu di 3 Provinsi karena Hina Viking dan Sunda, Ditangkap Sembunyi di Semarang

Lisa Mariana Komentari Gugatan Cerai Atalia Praratya ke Ridwan Kamil: Bu Cinta Berhak Bahagia

Curhat Atalia Praratya Soal Hubungan Ridwan Kamil dan Lisa Mariana, Akhirnya Pilih Gugat Cerai

Duduk Perkara Anggota TNI Yonzipur Kocar-kacir Diserang 15 WNA China Pakai Air Softgun & Alat Setrum

Dia mengungkapkan, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama, meskipun penanganan tersebut telah masuk dalam perencanaan.

"Sedimennya sudah terlalu tinggi. Sebenarnya penanganan itu tidak cukup kalau hanya dikeruk karena biayanya besar. Harus dilakukan secara komprehensif," ujar Sudarto, kemarin.

Menurutnya, penanganan yang lebih berkelanjutan harus dimulai dari wilayah hulu.

Di antaranya dengan memperbaiki kawasan tangkapan dan resapan air.

"Harusnya mulai dari hulu. Mungkin perlu ada daerah-daerah tangkapan resapan air, supaya konservasi di hulunya itu lebih baik, sehingga sedimen tidak banyak masuk ke sungai-sungai," terangnya.

Ia menegaskan, upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum, tetapi perlu melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi kehutanan, dan institusi terkait lainnya, termasuk masyarakat.

Sudarto juga mendorong penerapan resapan air di lingkungan permukiman.

"Kalau bisa setiap rumah itu bisa buat resapan. Dengan membuat resapan kan air itu tidak semua masuk ke selokan. Kalau satu rumah itu punya 2 kubik saja, kalau 1 juta rumah sudah 2 juta kubik. Besar, kan?" tegasnya.

Menurutnya, resapan air berfungsi mengurangi limpasan saat musim hujan dan menjadi cadangan air saat musim kemarau.

"Jadi harusnya ada di daerah seperti itu. Itu fungsinya ketika musim hujan mengurangi limpasan air, mengurangi beban sungai, dan selokan," jelasnya.

SUNGAI PLUMBON - Potret Sungai Plumbon Semarang yang sudah sempit pada Kamis (11/12/2025).
SUNGAI PLUMBON - Potret Sungai Plumbon Semarang yang sudah sempit pada Kamis (11/12/2025). (TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah)

Terkait rencana normalisasi Sungai Beringin pada tahun depan, Sudarto menyebutkan masih bergantung pada ketersediaan anggaran.

"Kalau perencanaannya, ada. Cuma nanti apakah dimungkinkan dananya, karena hampir semua sungai di Semarang ini, kalau lihat seperti KBB (Kanal Banjir Barat), KBT (Kanal Banjir Timur) juga sudah juga begitu. Semua itu kan biayanya juga tinggi. Nanti skemanya seperti apa, supaya itu semua bisa kita pelihara, sedimennya juga bisa kita angkat," katanya.

Ia menambahkan, pengerukan rutin tanpa penanganan dari hulu dinilai tidak efisien.

"Kalau tiap tahun kita hanya mengeruk itu kan menghabiskan biaya saja, percuma. Apakah tidak lebih baik penanganan dari hulunya?" Ungkapnya.

Keterbatasan anggaran negara serta prioritas penanganan bencana di wilayah lain juga menjadi pertimbangan.

"Anggaran belanja negara terbatas, sementara ada bencana di daerah lain yang lebih urgen," papar Sudarto.

Ia lebih lanjut berharap penanganan banjir dapat dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan untuk mengurangi risiko banjir di wilayah tersebut. (Idayatul Rohmah)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved