Senin, 25 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Inovasi Unplugged Coding Perkuat Literasi dan Berpikir Komputasional Siswa SD di Semarang

Program Unplugged Coding ini merupakan bagian dari pelatihan dan pendampingan penyusunan LKPD berbasis Unplugged Coding

Tayang:
IST/TANOTO FOUNDATIO
DAMPINGI SISWA - Salah satu guru SDN 03 Sadeng, Puput Alfrianti mendampingi para siswa dalam pembelajaran Unplugged Coding yang mendorong siswa berpikir kritis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah sejak dini. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Banyak siswa sekolah dasar masih terbiasa belajar dengan cara membaca dan menghafal. Di SD Negeri 03 Sadeng, Kota Semarang, pola tersebut mulai diubah melalui pembelajaran Unplugged Coding yang mendorong siswa berpikir kritis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah sejak dini.

Perubahan pola belajar tersebut diwujudkan melalui penerapan pendekatan Unplugged Coding dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Pendekatan ini memperkenalkan cara berpikir komputasional tanpa menggunakan komputer, dengan mengajak siswa memahami logika, urutan, dan pola melalui aktivitas permainan, cerita, serta simulasi yang menyenangkan dan mudah diterapkan di sekolah dasar.

Program tersebut diterapkan di SD Negeri 03 Sadeng dan mendapat respons positif dari guru maupun siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diajak belajar secara aktif dengan memanfaatkan kartu, lembar kerja, dan media sederhana sebagai sarana memahami konsep pembelajaran.

Kepala SDN 03 Sadeng, Galih Suci Pratama, menyampaikan bahwa kegiatan pembelajaran ini memberikan pengalaman belajar yang menarik dan inspiratif bagi sekolah.

“Pembelajaran hari ini sangat menarik dan bisa menginspirasi guru-guru. Anak-anak terlihat antusias karena belajar dengan cara yang berbeda,” ujarnya.

Program Unplugged Coding ini merupakan bagian dari pelatihan dan pendampingan penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Unplugged Coding. Kegiatan ini digerakkan oleh Tim Cyber AI, kelompok fasilitator Tanoto Foundation yang terdiri atas guru dan kepala sekolah dari berbagai sekolah dasar di Kota Semarang. Hingga saat ini, Tim Cyber AI telah melatih 40 guru dari 20 sekolah dasar dalam pengembangan dan penerapan LKPD berbasis Unplugged Coding.

Tim Cyber AI antara lain Rohmadi Purwono, S.Pd., Guru SD Negeri Sadeng 02; Ayu Kusumadiyastuti, S.Pd., Guru SD Negeri Wonotingal; Avis Yudha Irfan Ardianto, S.Pd., Guru SD Negeri Kembang Arum 02; serta Esy Fitrianingrum, Kepala SDN Kramas Kota Semarang.

Ketua Tim Cyber AI, Rohmadi Purwono, menjelaskan bahwa pelatihan difokuskan pada penguatan kemampuan guru dalam menyusun LKPD yang kontekstual untuk melatih kemampuan berpikir komputasional siswa sejak dini.

“Selama ini anak-anak cenderung hanya membaca dan menghafal. Melalui Unplugged Coding, kami ingin mendorong mereka untuk berpikir kritis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah sederhana tanpa harus menggunakan komputer,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong pengenalan coding dan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan, namun tetap disesuaikan dengan konteks sekolah dasar dan ketersediaan fasilitas.

Salah satu guru SDN 03 Sadeng, Puput Alfrianti, yang mengikuti pelatihan tersebut, langsung menerapkan Unplugged Coding dalam pembelajaran IPAS pada materi sistem pernapasan manusia. Ia memadukan kegiatan literasi, permainan labirin, serta simulasi perjalanan oksigen menggunakan kartu dan media sederhana.

“Anak-anak belajar melalui cerita, permainan, dan petualangan. Mereka menentukan jalur dan kode sesuai urutan sistem pernapasan manusia. Tanpa sadar, mereka belajar IPAS sekaligus melatih cara berpikir seperti coding,” ungkap Puput.

Menurutnya, metode ini membuat siswa lebih aktif dan tidak mudah bosan. Kemampuan berpikir kritis serta pemecahan masalah siswa juga mulai terlihat selama proses pembelajaran berlangsung.

Antusiasme juga datang dari siswa. Precious Wolfyanis, siswa kelas V SDN 03 Sadeng, mengaku senang mengikuti pembelajaran tersebut.

“Seru, seperti main game, jadi tidak bosan. Saya lebih suka belajar seperti ini,” ujarnya.

Melalui program ini, diharapkan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dasar dapat terus berlangsung dengan menghadirkan metode yang kontekstual, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21, sekaligus memperkuat literasi serta kemampuan berpikir komputasional siswa sejak dini. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved