Dari Rak Kaset ke Ruang Kolektif, Cerita Raffi dan Kaset Pita
Kaset pita, medium musik yang sempat dianggap usang kembali menemukan penggemarnya
Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dentingan gitar mengalun pelan, disusul desis halus khas pita kaset yang berputar.
Di sudut sebuah kedai kopi di Jalan Ampel Gading, Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, suara itu terdengar akrab, seolah membawa pengunjung kembali ke masa ketika musik dinikmati tanpa layar.
Aliran musik indie mengisi ruang. Sumbernya datang dari sebuah pemutar kaset pita yang masih berfungsi baik, tertata rapi di antara rak-rak berisi ratusan kaset berbagai genre.
Neon box bertuliskan Toko Hari Cerah x Ukara Coffee menyala dengan warna oranye hangat, menjadi penanda bahwa tempat ini bukan sekadar kedai kopi.
Bagi sebagian anak muda, ruang ini menjadi tempat singgah. Bagi sebagian lainnya, tempat ini adalah rumah bagi bunyi.
Baca juga: Pasar Slumpring Desa Cempaka Tegal Diserbu Ribuan Wisatawan: Jajanannya Bikin Khilaf
Kaset pita, medium musik yang sempat dianggap usang kembali menemukan penggemarnya.
Di tengah lantunan lagu, seorang pemuda tampak khusyuk membaca lirik yang tercetak di sampul kaset.
Ia adalah Raffi A. Laksono, kolektor kaset pita sekaligus pendiri Toko Hari Cerah. Tangannya sesekali menyentuh pita kaset, seolah memastikan setiap detail tetap terjaga.
Raffi bercerita, ketertarikannya pada kaset pita bermula sekitar lima tahun lalu. Saat itu, sejumlah teman di lingkaran musik independen merilis album dalam format kaset pita.
“Saya mulai mengoleksi kaset pita lima tahun silam. Awalnya karena teman-teman musik mengeluarkan album berupa kaset pita, lalu saya koleksi. Lama-lama malah keasyikan berburu kaset pita dari berbagai genre,” ujar Raffi kepada Tribun Jateng, Senin (19/1/2026).
Sejak saat itu, berburu kaset menjadi rutinitas. Raffi menyusuri berbagai daerah di Indonesia demi menemukan rilisan fisik yang kini kian langka.
Rak-rak kaset di ruangannya pun semakin penuh, memuat musisi lokal, band indie, hingga nama-nama internasional.
Menurut Raffi, tren kaset pita kini justru tumbuh di kalangan anak muda. Salah satu pemicunya adalah rilisan fisik terbatas dari band-band indie.
“Yang sekarang paling banyak diburu itu kaset pita band indie, karena mereka biasanya cuma merilis fisik secara limited. Jadi ada rasa eksklusifnya,” katanya.
Bagi Raffi, kaset pita menawarkan pengalaman mendengarkan musik yang berbeda. Bukan soal kejernihan suara, melainkan karakter bunyi yang dihasilkan.
| Mobil Terperosok Nyaris Terseret Arus Sungai Bringin Semarang, Pagar Talud 40 Meter Ambrol |
|
|---|
| Jalan Tanjakan Silayur Semarang Mendadak Rusak Parah: Bergelombang Hingga Aspal Mengelupas |
|
|---|
| BREAKING NEWS, Jenazah Wanita Tersangkut di Sungai Ngaliyan Semarang, Diduga Korban Banjir |
|
|---|
| Jual Rumah Baru - Bekas dan Tanah Murah Semarang, Jumat 15 Mei 2026 |
|
|---|
| 5 Daerah di Jateng Ini Paling Sedikit Dikunjungi Wisatawan, Apa Penyebabnya? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260119_SEMARANG2.jpg)