Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Wanita Plus Size Tak Perlu Insecure di Hari Pernikahan, Ada Nadya Sriningrum

Nadya Sriningrum Sanyoto (45) sudah paham betul bahwa bagi sebagian perempuan bertubuh besar, hari pernikahan tidak selalu

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
MODEL - Gaun pengantin rancangan Nadya Sriningrum Sanyoto dalam peragaan busana IKAPESTA 2026, Sabtu (24/1/2026) malam/TRIBUN JATENG/REZANDA AKBAR D. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG Nadya Sriningrum Sanyoto (45) sudah paham betul bahwa bagi sebagian perempuan bertubuh besar, hari pernikahan tidak selalu datang bersama rasa percaya diri. 

Gaun pengantin yang seharusnya menjadi simbol perayaan sering justru menjadi sumber kecemasan: takut terlihat gemuk, takut salah potong, takut tubuhnya tak cocok dengan gaun impian.


Selama 21 tahun berkecimpung di dunia bridal, perempuan kelahiran Semarang itu berulang kali mendengar pertanyaan yang sama dari calon pengantin plus size. 


“Ci, ada enggak ya gaun seukuran saya?, tapi nanti kelihatan tambah gede enggak?” ujarnya menirukan customernya, dikutip Tribunjateng, Minggu (25/1/2026).


Dari keresahan itulah Nadya mulai menyadari bahwa gaun pengantin bukan sekadar busana. Ia adalah medium kepercayaan diri. 


Termasuk bagi perempuan bertubuh besar, kepercayaan diri itu sering kali harus diperjuangkan lebih keras.


Dari keresahan itulah, workshop dengan nama Nadya Bridal di Jalan Jambu Raya Nomor 5, Lamper Kidul, yang dia kelola memilih jalur berbeda.


Jalur yang tidak banyak diambil desainer bridal yakni merancang gaun pengantin dimana tidak menyembunyikan tubuh, melainkan merayakannya. 


Melalui koleksi terbarunya bertajuk “Elegant Beyond Size”, Nadya ingin membuktikan bahwa plus size tidak identik dengan sederhana, apalagi membatasi diri.

Baca juga: Deodoran Jadi Alat RN Selundupkan Tembakau Gorila ke Lapas Ambarawa

Baca juga: Sosok Abdul Suyono Kades Karangrowo Pati, Desanya Kebanjiran Malah Ikut Pemerasan Bareng Sudewo


“Plus size itu bukan berarti enggak bisa glamour. Tetap bisa cantik, tetap elegan, dan tetap proporsional,” katanya.


Perjalanan Nadya di dunia bridal dimulai dari rias pengantin. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga yang sudah lebih dulu bergelut di dunia desain. 


Awalnya, ia hanya membantu merias. Namun setelah mulai menangani pengantin secara penuh, fokusnya perlahan bergeser ke desain gaun. 


Dari sana, kariernya terus berjalan hingga kini menginjak tahun ke-21.


Bertahan selama dua dekade bukan perkara mudah, apalagi di tengah menjamurnya desainer muda. 


Namun Nadya mengandalkan pengalaman dan tim yang solid. Ia memilih bekerja dengan tim lama yang sudah memahami ritme dan standar kerjanya.


Soal pasar, Nadya tak menutup mata. Ia mengikuti keinginan pelanggan, bahkan rela menyesuaikan desain dengan tren fashion terbatu atau inovasi jika koleksi yang ada belum sesuai selera calon pengantin. 


Namun baginya, keputusan akhir tetap ada di pelanggan.


“Kami selalu menyesuaikan keinginan customer, jika perlu kami bantu desain dan buat gaun baru apabila itu permintaan customer,” katanya.


Dalam setahun, musim paling sibuk biasanya terjadi sejak Desember hingga menjelang Lebaran. Pada periode puncak itu, Nadya bisa menangani tiga hingga empat pernikahan setiap pekan.


Pelanggannya datang dari berbagai daerah, mulai dari Semarang, Pati, Jepara, hingga luar Jawa seperti Medan meski sebagian dari mereka memang bekerja atau menetap di Jawa.


Menariknya, pola pemesanan juga berubah. Jika dulu pengantin memesan jauh hari, kini banyak yang serba instan.

Bahkan ada klien yang hanya memesan gaun dua minggu sebelum hari pernikahan.


“Sekarang sudah terbiasa. Kalau dulu awal-awal malah panik sendiri, takut enggak kelar,” ujarnya.


Pada malam IKAPESTA 2026, Sabtu (24/1/2026) ini, Nadya menampilkan 16 gaun pengantin dan delapan jas. Fokus utamanya jelas yakni desain plus size. 


Gaun-gaun tersebut dirancang untuk mengakomodasi berat badan hingga 120 kilogram. 


Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar satu bulan lebih, dengan total 12 gaun diselesaikan dalam periode tersebut.


Menurut Nadya, mendesain gaun plus size membutuhkan keberanian artistik. Setiap tubuh memiliki lekuk yang berbeda dan menonjol di bagian yang berbeda pula.


“Enggak bisa disamaratakan. Gaunnya harus disesuaikan supaya lekuk tubuh tetap kelihatan proporsional dan cantik.” jelasnya.


Salah satu model yang justru banyak diminati adalah mermaid. Model ini sempat dianggap “menakutkan” bagi perempuan bertubuh besar karena dianggap menonjolkan perut dan pinggul. 


Namun Nadya justru meyakini sebaliknya, model gaun mermaid jika didesign dengan baik bisa membuat pengantin bertubuh besar jadi lebih ramping.


“Mermaid itu justru bikin tubuh lebih kelihatan langsing. Bukan soal kurus, tapi proporsional,” katanya.


Untuk tren 2026, Nadya melihat pergeseran ke arah desain yang lebih simpel dan elegan. Gaun-gaun berlengan panjang dengan full brokat masih menjadi favorit, terutama untuk pengantin muslim.


Payet besar mulai ditinggalkan, digantikan payet kecil agar tampilan lebih menyatu dan anggun.


Soal warna, putih masih mendominasi gaun pengantin internasional. Namun untuk resepsi, warna-warna lembut seperti hijau sage menjadi tren yang banyak diminati.


Dari sisi harga, Nadya menegaskan bahwa kualitas tidak harus mahal. Paket di Nadya Bridal dimulai dari Rp10 juta untuk sepasang pengantin lengkap dengan riasan. 


Mayoritas pelanggan memilih sistem sewa. Bahkan untuk gaun baru, konsepnya tetap sewa dibuat khusus lalu disewakan dengan harga mulai Rp20 juta per pasangan.


Bagi Nadya, bisnis bridal bukan sekadar soal tren atau penjualan. Ada misi personal yang ia jaga sejak awal memastikan setiap perempuan merasa layak dan percaya diri di hari pernikahannya, apa pun ukuran tubuhnya.


“Banyak yang datang ke sini dengan rasa minder. Tapi saya ingin mereka yakin kalau mereka cantik, dengan gaun pernikahannya,” ujarnya.


Di tengah standar kecantikan yang kerap sempit, Nadya memilih jalan konsisten. 


Dia terus menjahit satu pesan sederhana bahwa perempuan tidak perlu mengecilkan diri untuk terlihat indah. Gaun yang tepat bisa menjadi awal keberanian untuk berdiri tegak di pelaminan tanpa rasa takut pada tubuh sendiri. (Rad)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved