Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kriminal

Sudah Seminggu Tak Ada Ormas Minta Pungli di PKL Pleburan Semarang, tapi Pelaku Masih Bebas

Dugaan praktik pungutan liar sebesar Rp20 ribu per hari yang sebelumnya meresahkan pedagang kaki lima

Tayang:
Penulis: Lyz | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana
PKL PLEBURAN - Potret suasana PKL berjualan di kawasan Pleburan, Jalan Hayam Wuruk, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Selasa (27/1/2026) petang. Di tengah aktivitas tersebut, mereka memilih bungkam dan enggan memberikan keterangan terkait dugaan pungutan liar Rp20 ribu per hari karena khawatir keselamatan dan adanya ancaman. 
Ringkasan Berita:
  • Dugaan pungli Rp20 ribu per hari di kawasan Pleburan, Semarang, dilaporkan tidak terjadi lagi selama hampir sepekan.
  • Pedagang menduga berhentinya pungli dipengaruhi oleh ramainya perhatian publik terhadap kasus tersebut.
  • Pedagang berharap kondisi ini berlanjut karena pendapatan PKL sudah sangat terbatas, terutama saat hujan.

 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Dugaan praktik pungutan liar sebesar Rp20 ribu per hari yang sebelumnya meresahkan pedagang kaki lima di kawasan Pleburan, Kota Semarang, dilaporkan tidak lagi terjadi dalam hampir sepekan terakhir.

Kondisi ini memberi sedikit kelegaan bagi para pedagang yang berjualan di sekitar Jalan Hayam Wuruk.

Informasi tersebut disampaikan oleh Erwinda, pedagang sempolan dan telur gulung yang biasa mangkal di kawasan Pleburan.

Ia menyebut, sejak Selasa (27/1/2026) hingga Minggu (1/2/2026) malam, tidak ada lagi pihak yang datang meminta setoran uang kepada pedagang.

“Alhamdulillah tidak ada pungutan.

Pedagang lain saya tanya juga tidak ada,” kata Erwinda saat dihubungi Tribunjateng.com, Minggu.

Menurut Erwinda, situasi ini kemungkinan dipengaruhi oleh ramainya pembicaraan publik terkait dugaan pungli di kawasan tersebut.

Ia menduga para oknum memilih menghentikan aktivitasnya sementara waktu karena sorotan masyarakat semakin besar.

Baca juga: Berita Duka, Wahyuni Dian Ningsih Meninggal Dunia

“Kemungkinan mereka sudah tahu ini ramai, jadi masih belum meminta,” imbuh dia.

Meski demikian, Erwinda berharap kondisi tanpa pungutan liar ini dapat berlangsung secara permanen.

Ia menilai, tanpa adanya pungli saja, pendapatan pedagang kaki lima sudah tergolong minim, terlebih ketika cuaca tidak mendukung.

“Kalau hujan, pembeli bisa dihitung jari.

Kadang malah nombok,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, dalam satu hari kerugian pedagang bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

Sementara itu, kebutuhan modal untuk berjualan jajanan seperti sempolan dan telur gulung tergolong besar, yakni sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu untuk mencukupi stok dua sampai tiga hari.

Dalam kondisi normal pun, keuntungan bersih yang didapat pedagang relatif minim, sekitar Rp50 ribu per hari. 

Di luar itu, PKL masih harus menanggung biaya resmi lainnya, termasuk retribusi ke Dinas Perdagangan Kota Semarang sebesar Rp3 ribu per hari yang tetap mereka bayarkan.

Sementara itu, Ketua Tim Advokasi PKL Kota Semarang, Zainal Abidin, menyampaikan bahwa situasi relatif lebih kondusif dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Di sisi lain, proses hukum masih berjalan. 

Para pedagang kini menunggu panggilan klarifikasi dari Polrestabes Semarang terkait laporan dugaan pungutan liar tersebut.

Kepolisian memastikan pengawasan terus dilakukan, termasuk patroli malam, untuk menjaga keamanan dan mencegah praktik serupa terulang.

Dari sisi aparat, Polrestabes Semarang memastikan terus melakukan patroli dan pengawasan di kawasan tersebut. 

Polisi menegaskan telah merespons laporan dugaan pungli dengan menurunkan personel, khususnya pada malam hari, guna menjaga situasi tetap kondusif.

Pihak kepolisian juga menyatakan akan menindak tegas apabila menemukan pelanggaran hukum di lapangan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved