Tribun Jateng Hari Ini
Jadi Simbol Penyucian Diri, Tradisi Gebyuran Bustaman Berlangsung Meriah
Tradisi Gebyuran Bustaman dilakukan sebagai bentuk penyambutan bulan suci Ramadan, yang disebut menjadi simbol warga membersihkan diri.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tradisi tahunan Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Semarang digelar meriah, Minggu (15/12) sore.
Puluhan anak hingga dewasa tampak dengan semarak mengikuti tradisi tersebut. Sejak sekira pukul 15.00, mereka sudah bersiap memulai acara. Sebagian bermain gamelan dan Tari Kreasi Bustaman.
Sementara, panitia tampak membawa cat air warna-warni buatan untuk dicoretkan ke wajah warga yang datang.
Selain itu, ratusan bungkus air warna-warni pun siap digunakan warga untuk saling menggebyur satu sama lain.
Tak semua warga bersiap mengikuti kegiatan itu dengan tangan kosong. Ada pula yang mengenakan jas hujan, ada yang menutup kepala dengan ember, dan sebagainya.
Sekira pukul 16.30, tradisi gebyuran tersebut dimulai. Tradisi dimulai dengan gebyuran simbolis menggunakan kendi oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, kepada beberapa warga.
Baru setelahnya, gebyuran antarwarga dilakukan. Ada yang saling melempar air yang telah dibungkus, ada pula yang langsung mengguyur air menggunakan ember. Coretan warna-warni di wajah para warga itupun luruh bersama air yang turun.
Satu warga yang ikut serta, Siska (45) bersama anaknya, Ronggo (9), mengatakan, baru pertama kali mengikuti tradisi itu.
Ia yang semula tinggal di Yogyakarta dan kembali ke Semarang, mengaku merasakan suasana semarak dan penuh kegembiraan.
"Seru. Tadi kena dua kali (air yang di bungkus plastik-Red), besar dan kecil. Tahun depan ingin ikut lagi," kata Ronggo, didampingi sang ibu.
Warga lain, Salim (27) mengaku sudah tiga kali mengikuti tradisi itu. Meski bukan warga Bustaman, ia senang turut merasakan semarak menyambut Ramadan di Kampung Bustaman. "Ini kali ketiga saya ikut berturut-turut. Kesannya, sangat meriah," ucapnya, semringah.
Salim menuturkan, sebelumnya sempat terkaget saat pertama kali mengikuti tradisi itu. Ia melihat wajah anak-anak hingga orang dewasa dicoret warna-warni. Namun setelah bertanya lebih jauh ke panitia, ia pun takjub dengan filosofinya.
"Sebelumnya agak kaget, kok dicoret-coret. Ternyata coretan itu diibaratkan seperti dosa, dan gebyuran memiliki makna membersihkan dosa. Saya semakin antusias mengikuti ini, dan harapannya selalu ada pembeda tiap tahun agar terus semarak," bebernya.
Simbol
Plt Lurah Purwodinatan, Bagas Yuwono Ario Negoro menyatakan, tradisi Gebyuran Bustaman dilakukan sebagai bentuk penyambutan bulan suci Ramadan. Tradisi itu disebut menjadi simbol warga membersihkan diri menjelang Ramadan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260215_GEBYURAN-BUSTAMAN-Tradisi-tahunan-Gebyuran-Bustaman.jpg)