Minggu, 31 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Film Bertema Keluarga Warnai Lebaran 2026, Angkat Kisah Ibu dan Anak

Salah satu film yang mengangkat tema tersebut adalah Senin Harga Naik, produksi Starvision yang berkolaborasi dengan Legacy Pictures.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
FOTO BERSAMA - Para pemain film Senin Harga Naik berfoto bersama setelah menyapa penonton di DP Mall Semarang, Minggu (15/3/2026). (TRIBUN JATENG/REZANDA AKBAR D) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Film bertema keluarga kembali menjadi tren pada musim Lebaran 2026.

Cerita tentang hubungan orang tua dan anak dinilai masih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang menjadikan Lebaran sebagai momen berkumpul bersama keluarga.

Salah satu film yang mengangkat tema tersebut adalah Senin Harga Naik, produksi Starvision yang berkolaborasi dengan Legacy Pictures.

Baca juga: Pertama di Jawa Tengah! The Park Semarang Hadirkan Atraksi Akrobat "Flying Trapeze" Selama Ramadan

Film yang disutradarai Dinna Jasanti ini mengisahkan perjalanan Mutia yang diperankan Nadya Arina. 

Dia meninggalkan rumah untuk mengejar karier, namun harus kembali ketika pekerjaannya justru berkaitan dengan bisnis keluarga.

Mutia bekerja di sebuah perusahaan properti dan mendapat tugas untuk melobi pemilik toko roti legendaris Mercusuar agar bersedia menjual tempat tersebut. 

Masalah muncul ketika pemilik toko roti itu adalah ibunya sendiri, Retno, yang diperankan Meriam Bellina.

Konflik antara ibu dan anak pun menjadi pusat cerita film ini.

Meriam Bellina mengatakan, karakter Retno digambarkan sebagai ibu tunggal yang selama puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak.

“Ini film keluarga yang menggambarkan banyak aspek kehidupan. Retno adalah seorang single mother yang selama berpuluh-puluh tahun mengendalikan semuanya demi anak-anaknya,” ujar Meriam Bellina, Minggu (15/3/2026).

Namun ketika anak-anaknya tumbuh dewasa dan mulai menjalani kehidupan masing-masing, Retno justru merasakan kekosongan.

“Tiba-tiba satu per satu kendali itu lepas. Anak-anak sudah besar dan tidak membutuhkan dia seperti dulu. Di situ dia merasa sendiri di rumah,” katanya.

Meriam menilai perasaan tidak lagi dibutuhkan oleh keluarga menjadi salah satu konflik emosional yang paling kuat dalam film tersebut.

“Rasa dibutuhkan itu penting. Ketika kita merasa sudah tidak dibutuhkan lagi, rasanya seperti bukan siapa-siapa,” ungkapnya.

Sementara itu, Nadya Arina menilai konflik dalam keluarga seperti yang digambarkan dalam film ini sering berawal dari persoalan komunikasi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved