Selasa, 7 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Psikolog SCU: Pembatasan Medsos Anak Perlu, tapi Penguatan Kontrol Diri Lebih Penting

Kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun oleh pemerintah dinilai perlu, namun bukan menjadi

IST
Guru besar Fakultas psikologi Soegijaprana Catholic University (SCU), Prof. Dr. Christin Wibhowo, M.Si.,Psikolog - ist 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun oleh pemerintah dinilai perlu, namun bukan menjadi solusi utama dalam mengatasi dampak negatif dunia digital bagi anak.


Pakar psikologi Soegijaprana Catholic University (SCU), Prof. Dr. Christin Wibhowo, M.Si.,Psikolog menyebut, pembatasan usia sebenarnya bukan hal baru.


Pada awal kemunculan platform seperti Facebook dan Instagram, batas usia pengguna bahkan sempat ditetapkan di atas 17 tahun, sebelum akhirnya semakin longgar seiring waktu.


“Pembatasan itu penting, tetapi sifatnya hanya kontrol eksternal.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak memiliki kontrol dari dalam dirinya sendiri,” ujarnya kepada Tribun Jateng.


Ia mengibaratkan penggunaan media sosial seperti mengelola sebuah taman.


Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya “membangun pagar tinggi”, tetapi harus mengajarkan anak bagaimana cara mengelola taman tersebut dengan baik.


Artinya, anak perlu dibekali kemampuan untuk mengatur diri, memahami kebutuhan, serta menentukan kapan dan bagaimana menggunakan media sosial secara bijak.

Baca juga: Sabu 11 Kg Sabu Bergambar Tikus Siap Edar untuk Pekerja Tambang, Nilai Total Rp20 M


Kebijakan pemerintah, lanjutnya, tetap dibutuhkan sebagai langkah awal untuk membangun kedisiplinan.

Namun, pembatasan usia harus diiringi dengan penguatan peran keluarga melalui edukasi pengasuhan atau parenting.


“Kalau hanya pembatasan tanpa edukasi, anak justru akan mencari celah dan bermain ‘kucing-kucingan’,” katanya.


Ia juga menyoroti pendekatan seragam seperti pembatasan waktu penggunaan, yang dinilai tidak selalu efektif.

Setiap anak memiliki ritme dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan yang terlalu kaku justru kurang tepat.


Di sisi lain, orang tua diminta tidak bersikap terlalu antipati terhadap dunia digital. Berdasarkan pengamatannya, anak dan remaja sebenarnya tidak sepenuhnya menyukai aktivitas online.

Ketika diberikan alternatif kegiatan yang menarik, mereka cenderung lebih memilih aktivitas tatap muka.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved