Senin, 11 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Waspadai Gangguan Pernapasan Akibat Hantavirus

Gejala awal hantavirus menyerupai demam berdarah maupun flu berat, yakni demam tinggi.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Vito
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus pada manusia di Kota Semarang, baik dari laporan rumah sakit maupun puskesmas.

Kepala Dinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam mengatakan, pemantauan hantavirus sudah dilakukan melalui sejumlah sampling pada manusia dan tikus dalam 3 tahun terakhir.

"Di 2023 itu dari 110 sampel dari manusia ada kurang lebih 3 persen yang positif hanta(virus)," ujarnya, Senin (11/5).

Namun, menurut dia, pada 2024 dan 2025 hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang lebih baik.

"2024, 2025 alhamdulillah ada sekitar 90-an atau 100-an juga sampel baik itu di manusia ataupun tikus negatif. 2025 dengan jumlah yang hampir sama hasilnya juga negatif," katanya.

Ia menyebut, hingga kini belum ada notifikasi kasus dari fasilitas kesehatan di Kota Semarang. "Kalau manusia, Alhamdulillah belum ada temuan, baik itu di rumah sakit ataupun di Puskesmas yang ada di Kota Semarang," ucapnya.

Meski belum ditemukan kasus, Hakam tetap mengingatkan masyarakat mengenai potensi penularan virus dari tikus. Hantavirus disebut memiliki pola penularan yang mirip dengan leptospirosis.

"Kalau tikus itu lepto melalui kencing tikusnya. Karena kan posisinya dia juga yang bisa jadi penyebab atau infeksiusnya adalah barang-barang atau cairan-cairan yang ada di dalam tikus ya. Atau pada saat dia digigit langsung atau mungkin dari air seninya," jelasnya.

Dia menambahkan, gejala awal hantavirus menyerupai demam berdarah maupun flu berat. “Hantavirus itu seperti orang kena demam berdarah, kena flu. Demam, pasti karena ini kan virus ya, demam tinggi," tuturnya.

Menurutnya, masa inkubasi hantavirus berlangsung sekitar 1-2 pekan. "Masa inkubasi itu masa pada saat habis virus itu masuk, entah itu dari gigitan atau dari kencing (tikus-Red) tadi. Kurang lebih antara 7-14 hari," bebernya.

Hakam menyatakan, gejala yang paling diwaspadai adalah gangguan pernapasan. "Yang membahayakan adalah virus ini itu menyerang di saluran nafas. Gagal nafas, seperti kayak orang pneumonia atau radang paru," terangnya.

Ia berujar, hingga kini belum ada antivirus khusus untuk hantavirus, sehingga penanganan difokuskan pada peningkatan daya tahan tubuh pasien dan penanganan gejala.

"Jadi antivirus khusus untuk hantavirus memang tidak ada. Obat-obat ketika dia sudah masuk ke Puskesmas, rawat inap, atau mungkin ke rumah sakit, kami menurunkan gejala klinis," tukasnya.

Sebagai langkah mitigasi, Hakam mengungkapkan, Dinkes mengedukasi masyarakat melalui program 'Gembira Ria', yang di dalamnya terdapat empat kegiatan.

"Yakni buka jendela, buka pintu, bersihkan rumah, dan yang punya rumah melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit," paparnya.

Dia menambahkan, upaya itu dilakukan untuk mengurangi kelembaban rumah yang menjadi tempat ideal berkembangnya tikus.

"Maka kalau kemudian suhu di dalam rumah, kelembaban di dalam rumah itu tidak sesuai dengan tumbuh kembang dari tikus, maka dia tidak bakal bisa berkembang," tandasnya. (Idayatul Rohmah)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved