Rabu, 13 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kasus Leptospirosis di Semarang Melonjak, Dinkes Gencarkan Program Gembira Ria

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengungkapkan kasus leptospirosis di Kota Semarang mengalami peningkatan pada 2026

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
TANGKAP TIKUS - Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam saat wawancara di kantor Dinkes Kota. Tribun Jateng/Idayatul Rohmah 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengungkapkan kasus leptospirosis di Kota Semarang mengalami peningkatan pada 2026.

Kondisi itu terjadi setelah hasil uji petik pada 2025 menemukan sekitar 30 persen tikus dan celurut mengandung bakteri leptospira.

“Kebetulan yang di 2025 itu uji petiknya ketemunya adalah 30 persen tikus ataupun celurut itu 30 % nya mengandung kuman lepto,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam, Senin (11/5/2026).

Dijelaskan, temuan tersebut direspons dengan upaya mitigasi dan edukasi kepada masyarakat. Namun, pada tahun ini kasus leptospirosis justru meningkat.

Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Selasa 12 Mei 2026, Naik Rp 4.000

"Ini yang se-dari mulai 2025 saat hasil itu ada kita sudah sampaikan masyarakat untuk melakukan PTP (penangkapan tikus permukiman) untuk melakukan mitigasi supaya kasus lepto itu bisa kita kendalikan. Nah, ternyata di 2026 ini kasusnya lepto itu melonjak tinggi," katanya.

Menurutnya, lonjakan kasus dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari iklim hingga perilaku hidup masyarakat.

"Kita tidak tahu ya karena bisa jadi adalah faktor iklim atau suhu itu sangat berpengaruh antara suhu, kelembaban itu ternyata juga kalau kemudian ditambah dengan faktor lingkungan dan perilaku hidup sehatnya masyarakat itu tidak oke ya, risikonya dia akan terpapar lepto itu sangat tinggi sekali," ujarnya.

Hakam menyebutkan, Dinkes kini menggencarkan program promotif dan preventif melalui Puskesmas. Salah satunya melalui gerakan "Gembira Ria".

"Gembira ria itu kegiatannya ada empat. Buka jendela, buka pintu, rumahnya dibersihkan, yang punya rumah melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit," katanya.

Program tersebut dilakukan untuk mengurangi kelembaban rumah yang disukai tikus.

"Nah, kalau sinar matahari bisa masuk, udara bisa keluar masuk, melalui buka jendela dan buka pintu, rumahnya dibersihkan, maka itu pasti akan bisa dihindari," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, Dinkes juga menggalakkan PTP dengan penggunaan perangkap.

"Kita memasang perangkap untuk membunuh tikusnya tidak boleh memakai lem. Kenapa? Kalau kemudian dia pakai lem tikus itu akan gelisah. Kalau dia pasti gelisah dia pasti akan mohon maaf, akan kencing di mana-mana," katanya.

Ia menegaskan penggunaan perangkap dinilai lebih aman karena cairan dari tikus dapat terlokalisasi.

"Makanya pastikan ketika dia itu tertangkap posisinya dia di dalam perangkap. Dia enggak bisa ke mana-mana gitu. Mau kencing pun dia sudah terlokalisir," ujarnya.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat jika tikus menjadi perantara berbagai penyakit, termasuk leptospirosis dan hantavirus.

"Kalau lepto bakteri, kalau hantavirus berarti virus," katanya. (idy)

Foto: Kepala Dinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam saat wawancara, baru-baru ini. Tribun Jateng/Idayatul Rohmah

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved