Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Lewat Dongeng dan Bermain, Anak-Anak Daycare Semarang Diajak Lepas dari Gawai

Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian dari edukasi literasi yang mengangkat tema penggunaan gawai secara bijak pada anak.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
MENDONGENG - Pendongeng Kempho Antaka saat bercerita di depan anak-anak di Daycare Kota Semarang, Jalan Durian Raya, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Kamis (21/5/2026). (Dok. Tanoto Foundation) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suara tepuk tangan kecil bersahut-sahutan di ruang bermain anak Daycare Kota Semarang, Jalan Durian Raya, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Kamis (21/5/2026).

Di daycare di bawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang itu, anak-anak duduk di lantai membentuk formasi setengah lingkaran bersama pengasuh, menatap sosok pendongeng di depan mereka.

"Coba duduk rapi. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Sekarang ikuti Kak Kempho. Tepuk satu!" seru pendongeng, Kempho Antaka, sambil mengajak anak-anak bertepuk tangan.

Baca juga: Program Tanoto Foundation Fellowship 2026 Kembali Dibuka, Ajak Generasi Muda Transformasi Pendidikan

"Tepuk satu!"

"Satu!" jawab anak-anak kompak.

"Dua di atas!"

"Dua!"

Suasana langsung riuh penuh tawa ketika Kempho berseloroh, "Sate!"

"Kalau sate enggak usah tepuk." Anak-anak pun tertawa lepas. Ice breaking sederhana itu menjadi pembuka sebelum dongeng dimulai.

Dengan gaya hangat dan interaktif, Kak Kempho, sapaan akrab Kempho Antaka, mengajak anak-anak berbincang ringan tentang kebiasaan pagi mereka.

"Siapa pagi ini sudah mandi?" tanyanya lantang.

Tangan anak-anak kecil langsung terangkat tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir ringan, mulai dari gosok gigi hingga mandi memakai sabun, membuat anak-anak semakin antusias mengikuti kegiatan.

Setelah suasana terkondisi, dongeng pun dimulai.

Kak Kempho membuka buku berjudul "Misi untuk Raka", sebuah cerita anak tentang penggunaan gawai secara bijak. Anak-anak tampak fokus memperhatikan ilustrasi besar berwarna cerah di halaman buku.

"Ada gambar anak kecil. Bajunya warna apa?" tanya Kak Kempho.

"Merah!" jawab anak-anak serempak.

Cerita kemudian membawa anak-anak mengikuti petualangan Tora dan Tania yang pergi ke rumah nenek di desa. Ketika muncul tokoh ayam dalam cerita, Kempho tak hanya membacakan, tetapi juga menggambar seekor ayam di papan tulis hanya dari angka sembilan.

Anak-anak bersorak kagum saat gambar sederhana itu berubah menjadi ayam lengkap dengan kaki dan paruh.

"Suara ayam bagaimana?" tanya Kak Kempho lagi.

"Kukuruyuk!" jawab anak-anak sambil tertawa.

"Satu, dua, tiga, kukuruyuk!"

"Wah, ayam berkokok bersahut-sahutan."

Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian dari edukasi literasi bersama Tanoto Foundation yang mengangkat tema penggunaan gawai secara bijak pada anak usia dini melalui buku "Misi untuk Raka". Buku ini merupakan buku keempat dari Seri Buku Cerita Anak SIGAP yang diterbitkan Tanoto Foundation berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Usai bercerita di depan anak-anak, Kak Kempho mengatakan, penggunaan ponsel pada anak kini menjadi perhatian karena sudah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan sejak usia dini.

"Ini menarik sekali, karena tampaknya anak-anak di sekeliling kita, di Indonesia ini, dari usia yang paling muda sudah pegang handphone dan beberapa kasus kita lihat kecanduan. Nah, ini tampaknya perlu edukasi sejak dini," ujarnya kepada Tribun Jateng.

Menurut Kak Kempho, bahan bacaan maupun media pembelajaran untuk anak harus disesuaikan dengan tahap perkembangan usia agar mudah dipahami sekaligus menarik perhatian mereka.

"Jadi memang sumber bacaan atau sumber pembelajaran untuk anak-anak harus menyesuaikan tingkat perkembangan usia anak-anak itu sendiri," katanya.

Ia menjelaskan, anak-anak usia kelompok bermain lebih tertarik pada buku dengan ilustrasi sederhana dan warna-warna cerah. Gambar dalam buku memiliki peran penting dalam membantu anak memahami cerita.

"Gambar bercerita itu menjadi buku yang sangat menarik buat mereka. Tentunya gambarnya harus juga memenuhi syarat. Misalnya gambarnya sederhana, jangan terlalu rumit. Kemudian warna-warnanya cukup menarik untuk mereka," ujarnya.

Selain visual, menurutnya, tulisan dalam buku anak juga harus sederhana dan tidak terlalu banyak agar anak lebih mudah mengikuti alur cerita.

"Cerita yang ditampilkannya pun harus sederhana, menyesuaikan tingkat perkembangan mereka," kata Kak Kempho.

Dalam proses mendongeng, ia mengaku tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga membangun suasana agar anak-anak merasa terlibat langsung.

Oleh karena itu, sesi bercerita biasanya diawali dengan ice breaking, bernyanyi, hingga permainan sederhana.

"Kalau proses bercerita untuk anak-anak, tentunya pertama kita akan mengoordinasi kelas atau mengoordinasi kelompok anak-anak itu sendiri. Kemudian diajak bernyanyi, diajak ice breaking, dan sebagainya," ujarnya.

Setelah suasana terbangun, cerita kemudian disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Ia juga menghadirkan interaksi berupa tanya jawab maupun aktivitas yang berkaitan dengan isi cerita.

"Kemudian intinya yaitu bercerita, yang mana cerita itu sudah kita seleksi sesuai dengan tingkat perkembangan mereka dan tentunya cara penyampaiannya kita yang menyesuaikan mereka. Jadi, bahasa yang kita sampaikan harus bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka," katanya.

Menurut Kak Kempho, mendongeng bukan sekadar hiburan sesaat. Ia melihat kegiatan bercerita sebagai salah satu cara menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus memperkuat komunikasi antara anak dan orang dewasa.

"Salah satu cara yang menyenangkan adalah berkomunikasi dengan mereka. Komunikasi yang mengasyikkan buat anak-anak adalah bercerita," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai dampak kegiatan mendongeng tidak bisa dilihat secara instan. Menurutnya, budaya bercerita perlu terus dibiasakan, terutama di lingkungan keluarga.

"Nah, bercerita ini tidak bisa kok hanya satu orang sekali bercerita di depan anak-anak, lalu anak-anak berubah semuanya. Mungkin bisa satu dua anak terinspirasi dari cerita itu, tapi alangkah baiknya kegiatan bercerita itu menjadi budaya," katanya.

Ia menilai kebiasaan orang tua membacakan cerita di rumah dapat membantu anak mengenal kosakata baru sekaligus mempererat hubungan emosional dalam keluarga.

"Anak mendapatkan pembelajaran kosakata baru, artinya mereka belajar bahasa. Kemudian bonding dengan orang tua juga semakin erat karena komunikasi terus terjaga dengan baik dan menyenangkan," ujar Kak Kempho.

Selain itu, menurutnya, anak juga menjadi lebih dekat dengan buku sejak usia dini sehingga minat membaca bisa tumbuh secara alami.

"Kemudian yang tak kalah asyik adalah dengan buku yang dimanfaatkan untuk bercerita, anak-anak jadi dekat dengan yang namanya buku sehingga kelak mereka akan menjadi sosok-sosok yang gemar membaca tanpa harus dipaksa karena sejak kecil sudah diperkenalkan bahwa buku itu isinya menyenangkan," katanya.

Dalam memilih buku cerita anak, Kak Kempho mengingatkan pentingnya peran orang tua dan guru untuk melakukan penyaringan terlebih dahulu. Menurutnya, tidak semua buku dengan tampilan menarik otomatis sesuai untuk anak-anak.

"Tidak semua buku anak-anak cocok disampaikan, tetap harus ada filter. Jadi, sebelum kita sampaikan kepada anak-anak, kita harus membacanya dan memahami isi ceritanya," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menghadirkan aktivitas tanpa layar gawai bagi anak-anak. Menurutnya, anak-anak sebenarnya memiliki energi besar untuk bergerak dan bermain aktif, tetapi perlahan mulai tergeser oleh kebiasaan bermain ponsel.

"Anak-anak itu kan kalau kita lihat sebenarnya mereka itu sosok yang energinya seperti tiada habisnya. Lari-lari, kemudian bergerak terus, moving terus. Nah, sayangnya sekarang aktivitas seperti itu sedikit demi sedikit kalah dengan yang namanya gadget," katanya.

Ia pun mendorong orang tua untuk lebih banyak terlibat dalam aktivitas anak, termasuk bermain dan membacakan cerita bersama di rumah.

"Ketika orang tua libur bekerja, nah ini manfaatkan untuk benar-benar menyatu dengan anak-anak. Anak-anak bermain, orang tua ya apa salahnya ikut bermain? Sehingga anak itu akan meninggalkan handphone," ujar Kempho.

Menurutnya, kehadiran orang tua dalam aktivitas sehari-hari anak menjadi salah satu kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap gawai.

"Maka kehadiran orang tua, keikhlasan orang tua menyatu dengan anak-anak, dengan kegiatannya, dengan membacakan cerita, dengan bermain bersama, itu akan menggerus keinginan mereka untuk sibuk hanya dengan handphone," imbuhnya.

Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menjelaskan bahwa kegiatan mendongeng bersama anak-anak tersebut merupakan bagian dari program literasi dan stimulasi anak usia dini dari Tanoto Foundation.

Menurutnya, program itu sekaligus menjadi upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai melalui aktivitas bermain dan membaca bersama.

Pihaknya menilai penggunaan gawai pada anak usia dini kini menjadi perhatian serius karena durasi screen time anak semakin tinggi. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada perkembangan interaksi sosial maupun emosional anak.

"Generasi kita saat ini, kalau kita lihat, menghabiskan waktu anak-anak kita tujuh jam per hari," ujar Anang.

Ia menjelaskan, anak usia dua hingga lima tahun rata-rata menghabiskan waktu dua hingga tiga jam di depan layar. Sementara secara keseluruhan, rata-rata screen time anak bisa mencapai sekitar tujuh jam per hari.

"Nah, dari situ kita melihat bahwa kalau ini dibiarkan terus-menerus, akan ada degradasi. Ada penurunan terkait dengan bagaimana anak-anak itu berinteraksi, karena kita tahu bahwa perkembangan optimal itu bukan dibentuk dari layar, tapi dibentuk dari interaksi," katanya.

Menurutnya, berbagai penelitian juga menunjukkan, screen time berlebihan dapat memengaruhi perilaku dan emosi anak. Tanoto Foundation, lanjutnya, mencoba menghadirkan alternatif aktivitas yang lebih interaktif melalui buku cerita anak.

"Makanya kita bagaimana supaya bisa mewarnai dunia anak, karena perkembangan anak yang optimal itu usia nol sampai tiga tahun. Maksimal lima tahun itu sudah harus tuntas perkembangan otaknya. Maka stimulasi-stimulasi ini jangan sampai lepas," ujarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui buku cerita "Misi untuk Raka" yang dibacakan dalam kegiatan mendongeng tersebut.

Ia menceritakan, buku itu mengangkat cerita tentang anak bernama Raka yang terlalu asyik bermain gawai hingga perlahan diajak kembali ke aktivitas bermain bersama teman-temannya.

"Nah, akhirnya mereka membuat sebuah misi. Ada empat misi yang dimunculkan oleh Tania dan Tora ini. Pertama, misinya tentang bergerak. Terus kemudian yang kedua adalah terkait dengan berbuat baik. Yang ketiga terkait dengan membaca, dan yang keempat adalah berkarya," imbuhnya.

"Misi untuk Raka" tersedia dalam bentuk cetak dan dapat diunduh secara gratis melalui situs resmi Tanoto Foundation di www.tanotofoundation.org. (adv/idy)

Baca juga: Sulap Numerasi Lebih Asyik, Tanoto Foundation Dapat Apresiasi Pemkab Kendal

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved