Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Sudiyanti Guru SMPN 2 Pangkah Tegal Ajak Murid Manfaatkan Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

Sudiyanti mengajak murid khususnya kelas VII praktik membuat lilin aromaterapi memanfaatkan bahan dasar minyak jelantah.

TRIBUN JATENG/Desta Leila Kartika
PROJECT KILAT: Melihat banyaknya limbah minyak jelantah di rumah para murid serta di kantin sekitar sekolah, seorang guru di Kabupaten Tegal bernama Sudiyanti terinspirasi untuk menciptakan ide kreatif. Sudiyanti membuat praktik baik bernama Project Kilat. (DOK. TANOTO FOUNDATION) 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Melihat banyaknya limbah minyak jelantah di rumah para murid serta di kantin sekitar sekolah, seorang guru di Kabupaten Tegal bernama Sudiyanti terinspirasi untuk menciptakan ide kreatif.

Lewat ide kreatif dan inovasinya, Sudiyanti membuat praktik baik bernama Project Kilat. 

Adapun Kilat sendiri merupakan singkatan dari Karya Inovasi Lilin Aromaterapi. 

Baca juga: Suasana Sekolah Lebih Hangat, Nur Aripiyah Kepsek SDN Gumalar 2 Tegal Hadirkan Strategi Lentera Hati

Melalui Kilat, Sudiyanti mengajak murid khususnya kelas VII praktik membuat lilin aromaterapi memanfaatkan bahan dasar minyak jelantah.

Sudiyanti merupakan guru di SMP Negeri 2 Pangkah, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Megajar di SMP Negeri 2 Pangkah selama kurang lebih 15 tahun, Sudiyanti merupakan guru mata pelajaran (mapel) IPA. 

Saat ditemui Tribunjateng.com pada Jumat (24/4/2026), Sudiyanti mengungkapkan, alasan utama memilih minyak jelantah karena biasanya hanya dibuang begitu saja yang malah bisa merusak lingkungan. 

Terlebih murid juga diperlihatkan cuplikan video yang memperlihatkan bahaya minyak jelantah ketika dibuang begitu saja ke selokan ataupun tempat pembuangan sampah. 

"Dari pada merusak lingkungan, maka saya mengajak murid untuk memanfaatkan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi lewat project Kilat," jelas Sudiyanti, pada Tribunjateng.com

Manfaat langsung yang dirasakan murid, mereka belajar berproses mengatasi masalah limbah khususnya minyak jelantah

Tidak hanya sekadar membuat lilin aromaterapi, tapi murid juga berproses bagaimana menemukan masalah, mendesain project, praktik langsung dan mempresentasikan hasilnya. 

Jangka panjang Sudiyanti ingin produk lilin aromaterapi buatan anak-anak bisa dijual ke koperasi sekolah. 

Bisa digunakan sebagai suvenir, oleh-oleh, ataupun digunakan sendiri di rumah. 

Saat praktik pembuatan lilin aromaterapi, satu kelompok terdiri dari tiga sampai empat anak dan biasanya bisa membuat tiga lilin. 

"Apalagi lilin aromaterapi ini dibuat dari bahan dasar yang dianggap tidak berguna tapi nantinya bisa memiliki nilai guna yang bermanfaat," ujar Sudiyanti. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved