Senin, 11 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Rock In Solo, Suarakan Ketidakadilan Soal isu Lingkungan dan Sosial

Rock In Solo (RIS) Edisi 21 yang diselenggarakan di Benteng Vastenburg, Solo diwarnai dengan aspirasi melawan ketidakadilan

Tayang:
Penulis: Ardianti WS | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Ardianti WS
DISKUSI - Rock In Solo (RIS) Edisi 21 yang diselenggarakan di Benteng Vastenburg, Solo diwarnai dengan aspirasi melawan ketidakadilan. Rock In Solo fokus mengangkat isu sosial dan permasalahan lingkungan. 

TRIBUNJATENG.COM,SOLO - Rock In Solo (RIS) Edisi 21 yang diselenggarakan di Benteng Vastenburg, Solo diwarnai dengan aspirasi melawan ketidakadilan.

Rock In Solo fokus mengangkat isu sosial dan permasalahan lingkungan.

Festival musik metal terbesar di Jawa Tengah ini memposisikan dirinya sebagai platform bagi band-band untuk menyampaikan kritik dan protes terhadap bencana lingkungan dan kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat dan lingkungan.

Tiga band yang berkolaborasi dengan Trend Asia di RIS 2025 ini, SUKATANI, The Brandals dan Down For Life mengangkat isu ekstraktivisme di Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, penggundulan hutan untuk energi, dan KUHAP yang baru disahkan oleh DPR. 

Sementara itu di sesi talkshow Trend Asia bersama kolaborator mengangkat topik-topik seperti proyek energi kotor seperti Geothermal di Dieng, Proyek Strategis Nasional Merauke, racun berbahaya PLTU, pendanaan kotor bank-bank di industri batubara, penyelamatan hutan dari ekspansi industri energi (co-firing), Danantara, hingga isu pajak dan ketimpangan ekonomi.

Selama dua hari, festival ini menampilkan jajaran musisi internasional dan nasional papan atas. 

RIS 2025 kembali menghadirkan headliner global, termasuk legenda Black Metal Mayhem (Norwegia), Blackened Death Metal dari Austria, Belphegor, dan Hardcore Punk energik Deez Nuts (Australia). 

Ada juga Stillbirth dari Jerman, Ugoslabier dari Thailand dan Tariot dari Singapura. Dari kancah domestik, penampilan diisi oleh nama-nama penting seperti Down For Life, Negatifa (Jakarta), the Brandals dan Sukatani. 

Kehadiran mereka membawa pesan-pesan yang relevan langsung ke hadapan ribuan penonton.

Band Sukatani menggunakan panggung RIS untuk menyuarakan protes terhadap Proyek Semen Pracimantoro. 

Mereka menyoroti ancaman serius proyek ini terhadap ekosistem gamping (karst), yang tidak hanya merusak bentang alam tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga lokal yang sangat bergantung pada sistem mata air.

“Sebenarnya isu soal lingkungan ini kan isu yang kompleks, di dalamnya banyak sekali sumber permasalahannya, mulai dari kepentingan politik, ketamakan kapitalis sampai pengisapan di perburuhan, bahkan soal dogma yang dibangun penguasa yang menyebabkan konflik horizontal.Jadi ketika kita semua sadar akan sumber-sumber permasalahan itu kita bisa saja melakukan perjuangan dari berbagai lini di manapun kita berada sesuai dengan kemampuan dan potensi yang kita miliki masing-masing, contoh misalnya musisi yang mampu dan berpotensi besar menggunakan medium musik untuk menyebarkan informasi dan juga dukungan.Dengan saling mendukung setiap perjuangan masing-masing merupakan sebuah bentuk solidaritas yang paling mendasar dan bisa menjadi pondasi kuat kita untuk sama-sama menciptakan lingkungan yang lebih baik,” ujar Alextroguy personel Suka Tani, Senin (24/11/2025).

Sementara itu, Band veteran The Brandals menyampaikan kritik keras terhadap Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru.

Mereka khawatir revisi ini mengandung pasal yang berpotensi membatasi kebebasan berekspresi dan menjadi alat kriminalisasi terhadap masyarakat yang kritis terhadap kekuasaan.

“Di rezim ini banyak lahir kebijakan dan peraturan pemerintah yang makin ugal-ugalan dan justru menekan hak dasar serta membungkam ruang gerak kita sebagai warga negara, seperti halnya KUHAP yang baru disahkan. Karena itu penting buat kita untuk memperjuangkan kebebasan kita serta menolak keras kebijakan dan peraturan ini di berbagai kesempatan supaya seluruh komponen masyarakat sadar dan bersatu untuk mengambil alih balik hak hidupnya,” ujar Eka Anash personel The Brandals

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved