Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Tamu Undangan Tak Boleh Rekam Beksan Bedaya Anglir Mendung di Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran menggelar jumenengan atau peringatan kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X. 

Tayang:
TRIBUN JATENG/Bram Kusuma
Tribun Jateng Hari Ini Rabu 28 Januari 2026 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Pura Mangkunegaran menggelar jumenengan atau peringatan kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X

Pada kesempatan itu, digelar tarian sakral Beksan Bedaya Anglir Mendung, yang menceritakan berdirinya Mangkunegaran.

Tarian sakral Beksan Bedaya Anglir Mendung kembali menjadi salah satu prosesi adat yang wajib digelar setiap peringatan ke-4 kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X di Pura Mangkunegaran, Solo, Selasa (27/1/2026). 

Pada kesempatan itu, tamu yang hadir dilarang merekam tarian tersebut.

Ketua Pelaksana Tingalan Jumenengan, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo menjelaskan, larangan merekam bertujuan agar tamu bisa berdoa secara khidmat tanpa terganggu aktivitas lain. 

“Beksan Bedaya Anglir Mendung merupakan beksan pusaka. Karena tarian pusaka kita tidak boleh sambil makan minum merekam,” kata Ancillasura. 

“Harapannya kita turut berdoa bersama mereka supaya lancar,” ungkapnya.

Sebanyak tujuh penari memperagakan berbagai gerakan yang menggambarkan peperangan era Mangkunegara I. 

Tarian ini mengisahkan perjuangan KGPAA Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa dalam melawan Belanda, diiringi gamelan Kyai Kanyut Mesem. 

Tarian ini bersifat sakral, berdurasi sekitar 45 menit, dan penari membawa senjata berupa gendewa (panah). 

Tari tersebut menceritakan peperangan antara RM Said atau Mangkunegara I dibantu dua orang sahabatnya Kudana Warsa dan Rangga Panambang melawan Belanda di Trowulan, Jawa Timur.

“Tarian tersebut peringatan Perang Mangkunegara I di Ponorogo. Kenapa ada di setiap Jumenengan karena bedaya hanya ditampilkan di acara seperti ini. Di Kadipaten penari bedaya hanya bisa tujuh orang, di Kasunanan (Surakarta) bisa sembilan,” jelas Ancillasura.

Berdasarkan keterangan tertulis dari Kawedanan Manggala Pranaya Pura Mangkunegaran, tingalan jumenengan merupakan bentuk syukur atas satu tahun ke belakang dan pembuka atas tahun kelima kepemimpinan KGPAA Mangkunegara X di Mangkunegaran. 

Sementara itu, dalam sabdanya, KGPAA Mangkunegara X mengatakan, kebahagiaan tidak dapat dikejar dengan cara tergesa-gesa, tetapi dengan perbuatan dan batin yang jernih. 

"Kita percaya kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa. Melainkan dijalani sebagai suatu laku. Tidak lahir dari pencapaian semata, tetapi dari cara manusia menata batin. Bersikap jernih memaknai perjalanan hidupnya dari hari ke hari," kata Gusti Bhre, sapaan akrabnya. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved