Tribunjateng Hari ini
Tamu Undangan Tak Boleh Rekam Beksan Bedaya Anglir Mendung di Mangkunegaran
Pura Mangkunegaran menggelar jumenengan atau peringatan kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X.
Penulis: Achiar M Permana | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Pura Mangkunegaran menggelar jumenengan atau peringatan kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X.
Pada kesempatan itu, digelar tarian sakral Beksan Bedaya Anglir Mendung, yang menceritakan berdirinya Mangkunegaran.
Tarian sakral Beksan Bedaya Anglir Mendung kembali menjadi salah satu prosesi adat yang wajib digelar setiap peringatan ke-4 kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X di Pura Mangkunegaran, Solo, Selasa (27/1/2026).
Pada kesempatan itu, tamu yang hadir dilarang merekam tarian tersebut.
Ketua Pelaksana Tingalan Jumenengan, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo menjelaskan, larangan merekam bertujuan agar tamu bisa berdoa secara khidmat tanpa terganggu aktivitas lain.
“Beksan Bedaya Anglir Mendung merupakan beksan pusaka. Karena tarian pusaka kita tidak boleh sambil makan minum merekam,” kata Ancillasura.
“Harapannya kita turut berdoa bersama mereka supaya lancar,” ungkapnya.
Sebanyak tujuh penari memperagakan berbagai gerakan yang menggambarkan peperangan era Mangkunegara I.
Tarian ini mengisahkan perjuangan KGPAA Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa dalam melawan Belanda, diiringi gamelan Kyai Kanyut Mesem.
Tarian ini bersifat sakral, berdurasi sekitar 45 menit, dan penari membawa senjata berupa gendewa (panah).
Tari tersebut menceritakan peperangan antara RM Said atau Mangkunegara I dibantu dua orang sahabatnya Kudana Warsa dan Rangga Panambang melawan Belanda di Trowulan, Jawa Timur.
“Tarian tersebut peringatan Perang Mangkunegara I di Ponorogo. Kenapa ada di setiap Jumenengan karena bedaya hanya ditampilkan di acara seperti ini. Di Kadipaten penari bedaya hanya bisa tujuh orang, di Kasunanan (Surakarta) bisa sembilan,” jelas Ancillasura.
Berdasarkan keterangan tertulis dari Kawedanan Manggala Pranaya Pura Mangkunegaran, tingalan jumenengan merupakan bentuk syukur atas satu tahun ke belakang dan pembuka atas tahun kelima kepemimpinan KGPAA Mangkunegara X di Mangkunegaran.
Sementara itu, dalam sabdanya, KGPAA Mangkunegara X mengatakan, kebahagiaan tidak dapat dikejar dengan cara tergesa-gesa, tetapi dengan perbuatan dan batin yang jernih.
"Kita percaya kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa. Melainkan dijalani sebagai suatu laku. Tidak lahir dari pencapaian semata, tetapi dari cara manusia menata batin. Bersikap jernih memaknai perjalanan hidupnya dari hari ke hari," kata Gusti Bhre, sapaan akrabnya.
| Tiga Bos Bank BJB Divonis Bebas dalam Kasus Kredit Sritex |
|
|---|
| Ngadiono Warga Pati Korban Kecelakaan ALS Akan Dibawa dengan Helikopter |
|
|---|
| Taj Yasin: Kasus Pencabulan Santriwati di Pati Sudah Terpantau sejak 2024 |
|
|---|
| Pelarian Ashari Tersangka Pencabulan Santriwati Berakhir di Wonogiri |
|
|---|
| Uniknya Ras Kambing Kaligesing di Klaten, Kambing Mandi Tiga Kali Sehari, Harga Tembus Ratusan Juta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Rabu-28-Januari-2026.jpg)