Berita Solo
Pemuda Dibacok di Jalan Gatot Subroto Solo, Polisi: Bukan Klitih
Peristiwa yang disebut-sebut sebagai aksi klitih tersebut sempat viral di media sosial.
Penulis: Sof | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Ridwan (23), pemuda asal Serengan, Kota Solo, menjadi korban kekerasan jalanan pada Jumat (15/5/2026) dini hari lalu.
Peristiwa yang disebut-sebut sebagai aksi klitih tersebut sempat viral di media sosial.
Fakta baru ditemukan Polresta Solo terkait insiden tersebut.
Baca juga: Viral Aksi Klitih di Jalan Gatot Subroto Solo, Korban Dapat 13 Jahitan
Seperti diberitakan sebelumnya, Ridwan mengalami luka bekas sabetan celurit di paha bagian kanan dan harus mendapat perawatan medis berupa jahitan sebanyak 13 jahitan.
Ridwan yang kala itu membonceng sepeda motor yang dikendarai oleh rekannya bernama Aji (25) diserang oleh orang tak dikenal di kawasan tersebut.
Terkait insiden tersebut, Kasi Humas Polresta Solo AKP Lingga Ramadhani menerangkan bahwa dari pendalaman petugas diketahui kejadian itu dipicu oleh kesalahpahaman antara korban dan pelaku saat berkendara di jalan raya.
“Saat itu korban berkendara dari arah utara menuju selatan. Di persimpangan Pasar Mbeling, korban berpapasan dengan pelaku yang datang dari arah barat menuju utara dengan posisi berkendara terlalu melebar,” kata Lingga, Rabu (20/5/2026).
Lingga melanjutkan, diduga cara berkendara pelaku yang dinilai membahayakan membuat keduanya sempat saling menoleh di jalan.
Akibat kesalahpahaman tersebut, pelaku diduga tersulut emosi lalu memutar balik kendaraannya dan mengejar korban hingga kawasan Koridor Gatsu.
Hingga akhirnya di kawasan Jalan Gatot Subroto (Gatsu), pelaku mulai mengintimidasi korban dengan mengetuk bagian belakang helm korban menggunakan senjata tajam jenis celurit kecil sebanyak dua kali.
Tak sampai di situ saja, pelaku nekat mengayunkan senjata tersebut hingga menyayat paha kanan korban sebelum melarikan diri.
Usai kejadian, korban langsung melapor ke Mapolsek Serengan.
Akibat sabetan celurit tersebut, korban mengalami luka robek cukup serius.
“Korban mengalami luka sayatan sepanjang 10 sentimeter dan harus menerima 13 jahitan. Saat ini korban menjalani rawat jalan,” terang dia.
Menanggapi hal itu, Lingga menegaskan bahwa dugaan aksi klitih tersebut merupakan informasi yang tidak benar.
Lingga melanjutkan bahwa peristiwa itu murni merupakan tindak pidana penganiayaan akibat percekcokan spontan di jalan raya.
“Berdasarkan hasil pendalaman awal, kasus ini merupakan tindak pidana penganiayaan akibat percekcokan spontan di jalan raya,” ujarnya.
Saat ini polisi masih melakukan pendalaman dengan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan, termasuk memeriksa saksi serta rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi untuk mengidentifikasi pelaku.
Polresta Surakarta juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menyerahkan penanganan kasus kepada pihak kepolisian.
Sekilas tentang klitih
Klitih berasal dari bahasa Jawa yang awalnya berarti kegiatan jalan-jalan atau berkeluyuran tanpa tujuan yang jelas.
Namun, seiring waktu, istilah ini telah bergeser maknanya menjadi tindakan kriminal, terutama di kalangan remaja.
Klitih kini merujuk pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok pelajar yang mencari target untuk diserang, sering kali tanpa alasan yang jelas.
Fenomena klitih mulai dikenal sebagai tindakan kriminal pada awal tahun 1990-an, ketika kepolisian Yogyakarta mulai mencatat keberadaan geng-geng remaja yang terlibat dalam kejahatan.
Setelah kebijakan pemerintah yang melarang tawuran antar pelajar, banyak remaja yang beralih ke aktivitas klitih sebagai bentuk kenakalan baru.
Klitih sering terjadi di malam hari di jalan-jalan sepi, di mana para pelaku berkeliling menggunakan sepeda motor untuk mencari korban. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Bukan Klitih, Polisi Ungkap Penyebab Pembacokan di Jalan Gatsu Solo
Baca juga: Kejar-kejaran Dini Hari, Pelajar Tewas Ditusuk Pelaku Klitih
| Viral Aksi Klitih di Jalan Gatot Subroto Solo, Korban Dapat 13 Jahitan |
|
|---|
| Kecewa Mahasiswi Korban Pelecehan Oknum Dosen UIN Solo: Teguran Saja Tidak Cukup |
|
|---|
| Pertina Jateng Dorong Solo Jadi Pemasok Petinju Potensial |
|
|---|
| Fantasi Liar Pemuda Mabuk di Solo, Lompat dari Jembatan Jurug karena Penasaran Meninggal atau Tidak |
|
|---|
| Jangan Lewatkan, Ada Festival Balon Udara di Solo, Minggu 17 Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260520_AKSI-KLITIH.jpg)