Senin, 25 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Endang Bahagia Bisa Berbagi pada Biksu Thudong lewat Pindapata

Warga Kota Solo menyambut para biksu thudong dari berbagai negara dengan tradisi pindapata.

Tayang:
TRIBUN JATENG/Bram Kusuma
Tribun Jateng Hari Ini Senin 25 Mei 2026 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Warga Kota Solo menyambut para biksu thudong dengan tradisi pindapata.

Pindapata adalah tradisi sakral berupa pemberian dana kepada biksu sangha berbentuk makanan kering atau kebutuhan pokok lainnya langsung dari masyarakat dan umat.

Puluhan umat Buddha berbaris rapi di sepanjang rute kedatangan 58 biksu thudong di kawasan Balai Kota Solo, untuk melangsungkan tradisi pindapata, Minggu (24/5/2026).

Di antara barisan masyarakat umum yang menyemut, tampak Endang Susweni (73), seorang umat Buddha asal Solo yang dengan penuh suka cita memberikan dana berupa makanan kering kepada para bhante, sebutan akrab untuk biksu. 

Umat Buddha dari Vihara Saddha Loka, Lemahabang, Banjarsari, Solo, itu menjelaskan, aksi pemberian dana ini merupakan wujud penghormatan tertinggi sekaligus bentuk dukungan nyata dari umat kepada sangha, khususnya bagi para bhante yang tengah berjuang menjalani ritual thudong. 

"Pindapata itu kita memberikan dana kepada biksu sangha, ini sebagai bentuk dana dan dukungan kami untuk para bhante," ujar Endang kepada awak media, Minggu.

Endang menyebutkan, jenis makanan yang didonasikan oleh umat wajib disesuaikan dengan aturan kedisiplinan atau aturan moral yang dipegang teguh oleh para bhante.

Berbeda jauh dengan kebiasaan masyarakat umum, para bhante memiliki regulasi waktu makan yang terbilang sangat ketat setiap harinya. 

"Biasanya dana makan untuk bhante itu sendiri nanti di vihara. Dan bhante itu untuk dhahar (makan) itu hanya pagi sama siang tuh jam 12.00 paling lambat. Setelah itu sudah tidak makan lagi, untuk selanjutnya pagi lagi," terangnya. 

Endang mengungkapkan, makanan yang diberikan secara umum berupa makanan yang sifatnya kering dan awet.

Terkait dengan aturan jenis makanan, terdapat beberapa perbedaan preferensi atau mazhab di antara para bhante.

"Iya, pokoknya yang kering-kering. Nggak boleh susu karena memang tidak minum susu. Kalau makan daging, ada yang bisa, ada yang nggak, beda-beda," kata Endang. 

Kehadiran para biksu thudong yang melintasi wilayah Kota Solo ini menjadi momen langka dan sangat berharga bagi umat Buddha setempat.

Endang mengaku sangat bersyukur dan bahagia luar biasa karena bisa berkesempatan langsung melakukan kebajikan massal ini. 

"Senang, ya senang sekali. Mudah-mudahan bisa melewati Solo lagi. Belum tentu kesempatan ini ada lagi di Solo," harap Endang. 

Juru Bicara Panitia Waisak Kota Solo, Pandita Mettasiri Sutrisno menambahkan, barang-barang hasil prosesi pindapata hari ini nantinya tidak semuanya dikonsumsi sangha, melainkan akan disumbangkan kembali kepada masyarakat luas yang membutuhkan bantuan.

"Jadi intinya berbagi, ketika biksu dikasih persembahan, ada sebagian untuk para bhante seperti minuman yang bisa dibawa perjalanan, juga kita akan berbagi kepada yang membutuhkan," ujaer Mettasiri. 

Istirahat

Sementara itu, di Kota Semarang, sejumlah biksu beristirahat di pelataran depan Masjid Al Falah, Jalan Kaligawe, pada Minggu siang, setelah berjalan kaki menempuh jalur pantura dari Jepara.

Mereka duduk di bawah tenda tratak di depan masjid untuk memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Pada pukul 15.00, para biksu sudah kembali melanjutkan perjalanan melintasi jalan pantura Kaligawe. 

Rombongan biksu thudong itu tengah menjalani perjalanan spiritual menuju Candi Sewu, Klaten, menjelang perayaan Waisak.

Perjalanan dimulai dari Candi Sima, Donorojo, Jepara, pada 20 Mei lalu, dan dijadwalkan tiba di Klaten, pada 30 Mei mendatang.

Salah satu peserta, Nyanakaruno Mahathera (60) mengaku, jalur pantura menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan karena suhu panas yang cukup menyengat.

"Ini trek yang luar biasa karena sangat panas sekali. Makanya, kami banyak berhenti," katanya, saat ditemui Tribun Jateng di depan Masjid Al Falah.

Dia mengatakan, cuaca panas membuat perjalanan harus dilakukan lebih perlahan.

"Karena ini kan kami bukan mau mengejar sampai cepat, kalau jam berapa sampai berapa,” ujar Nyanakaruno, yang merupakan peserta paling senior dalam rombongan biksu thudong tersebut.  

Perjalanan thudong kali ini diikuti biksu dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Papua.

Selain berjalan kaki, rombongan juga mendapat pendampingan dari relawan lintas komunitas dan agama.

“Selain ritual spiritual, perjalanan itu juga membawa pesan kemanusiaan dan toleransi. Makna perjalanan dan juga bagaimana kita membangun rasa toleransi antar sesama dan juga membangun nilai-nilai sosial yang bisa kita kembalikan dengan cara yang benar," ujarnya.

Di Kota Semarang, rombongan dijadwalkan beristirahat, sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Ungaran, Salatiga, Boyolali, hingga akhirnya tiba di kawasan Candi Sewu, Klaten, untuk mengikuti rangkaian Waisak.

"Kami rencananya sampai tanggal 30 (Mei). Kami harap, nanti tanggal 31 sudah di Klaten," imbuhnya.

Ketua Panitia, Sundoko menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan pertama thudong tingkat Jawa Tengah yang berskala nasional.

Kegiatan itu diikuti oleh 16 bhante dari seluruh Indonesia, mulai dari Banyumas, Boyolali, Mojokerto, Lampung, Medan, dan Papua.

"Nanti pas di Semarang akan ada satu tambahan bhante. Jadi 17," katanya.

Perjalanan biksu thudong itu juga mendapatkan pengawalan aparat kepolisian.

Pengawalan dilakukan sejak rombongan memasuki perbatasan Demak–Semarang hingga melanjutkan perjalanan menuju Vihara Mahabodhi Semarang.

Di sepanjang jalur yang dilalui, personel Polsek Genuk dan 100 santri Pagar Nusa Genuk serta unsur masyarakat lainnya mengawal para biksu. 

“Pengamanan dilakukan sebagai bentuk pelayanan kepolisian terhadap seluruh kegiatan masyarakat, termasuk agenda keagamaan lintas daerah,” kata Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto. 

“Kami memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar,” imbuhnya. (Idayatul Rohmah/Reza Gustav/Kompas.com)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved