Berita Wonosobo
Glamping ala Rumah Eskimo Kutub Utara Kini Hadir di Wonosobo
Menikmati udara dingin pegunungan khas Wonosobo kini bisa dirasakan di Damar Valley Glamping.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Menikmati udara dingin pegunungan khas Wonosobo kini bisa dirasakan di Damar Valley Glamping, destinasi wisata baru di Desa Damarkasiyan, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo.
Berbeda dari penginapan pada umumnya, glamping ini mengusung konsep bangunan semi permanen yang terinspirasi dari rumah suku Eskimo di Kutub Utara.
Perpaduan desain unik, panorama alam, serta suasana tenang menjadi daya tarik utama yang diburu wisatawan.
Baca juga: Lahan Bekas Tambang di Bawen Bakal Jadi Agrowisata, Akan Dibangun Glamping hingga Kebun Buah
Dari kejauhan, deretan tenda dome berwarna putih tampak berdiri berjejer di area perbukitan dengan latar pegunungan Wonosobo.
Di beberapa sudut kawasan, kebun stroberi juga tengah ditata sebagai tambahan daya tarik wisata alam bagi pengunjung.
Mengusung bangunan semi permanen yang menyatu dengan alam pegunungan, tempat ini telah beroperasi sejak Juni 2025 dan menyasar wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang dengan fasilitas modern di tengah alam terbuka.
Nama Damar sendiri diambil dari filosofi pohon damar yang identik sebagai sumber penerangan tradisional.
“Selain terletak di Desa Damarkasiyan, pohon damar itu kan getahnya bisa jadi bahan bakar lentera. Harapannya bisa jadi sumber daya yang bisa terus menerangi,” ujar Khayah, pegawai pengelola Damar Valley Glamping, Rabu (20/5/2026).
Tak hanya itu, nama-nama kamar di kawasan glamping juga menggunakan nama rasi bintang untuk memperkuat nuansa alam dan menghadirkan pengalaman menginap yang berbeda bagi para pengunjung.
Konsep utama glamping ini terinspirasi dari rumah khas suku Eskimo di Kutub Utara dengan bentuk bangunan yang tampak bulat.
“Kita mengadaptasi dari suku Eskimo, suku khas Kutub Utara yang rumahnya pakai es bulat itu,” kata Khayah.
Meski demikian, desain tersebut telah disesuaikan dengan kondisi tropis Indonesia menggunakan bangunan semi permanen berbahan rangka dengan material khusus pada bagian dalamnya.
Menurut Khayah, ide pembangunan glamping itu muncul setelah pemilik melihat kondisi pascabencana gempa Palu beberapa tahun lalu.
Saat itu, banyak korban tinggal di tenda-tenda darurat sehingga memunculkan gagasan menghadirkan bangunan non permanen yang dinilai lebih aman dan ramah lingkungan.
“Kalau kita mengadaptasi bangunan non permanen seperti itu lebih ramah lingkungan dan kalau ada bencana juga lebih aman,” ujarnya.
Selain area penginapan, Damar Valley Glamping juga memiliki kawasan lapang terbuka yang langsung menghadap panorama pegunungan dan hamparan alam Wonosobo.
Area lapang tersebut menjadi ruang favorit pengunjung untuk bersantai, menikmati udara pegunungan, hingga berkumpul bersama keluarga maupun teman saat malam hari.
Di area tersebut, pengunjung dapat menikmati suasana alam terbuka dengan hamparan rumput hijau dan lanskap pegunungan yang terlihat jelas saat cuaca cerah.
Suasana semakin menarik ketika sore menjelang malam, karena pengunjung bisa menyaksikan perubahan panorama dari langit senja menuju gemerlap city light di kejauhan.
Dari kawasan glamping ini, wisatawan dapat melihat Gunung Kembang, Sindoro, dan Sumbing.
Pada malam hari, pemandangan berubah menjadi hamparan city light yang membentang dari kejauhan.
Bahkan ketika cuaca sangat cerah, sejumlah titik pegunungan lain juga terlihat dari area glamping, mulai dari Waduk Wadaslintang hingga Gunung Slamet.
Damar Valley Glamping menyediakan total 26 kamar yang terdiri dari tipe standar, superior, deluxe, junior suite, hingga suite.
Untuk tipe standar, fasilitas yang tersedia berupa kamar berukuran sekitar tiga meter, kipas angin, kopi dan teh, serta sarapan untuk dua orang.
Sementara tipe di atasnya sudah dilengkapi televisi, AC, dan kamar mandi privat.
“Iya, untuk semua unitnya kita difasilitasi dengan water heater,” ujar Khayah.
Pengelola juga memanfaatkan teknologi solar cell untuk sistem pemanas air di beberapa unit kamar.
Energi panas matahari dipusatkan lalu dialirkan ke masing-masing kamar.
Pengunjung dapat menikmati pengalaman glamping dengan tarif mulai Rp400 ribu per malam yang sudah termasuk sarapan untuk dua orang.
Selain penginapan, Damar Valley Glamping juga menyediakan sejumlah fasilitas tambahan seperti kebun stroberi, tanaman endemik sayuran, hingga area hijau dengan berbagai vegetasi khas pegunungan.
Baca juga: Rekomendasi Glamping di Guci Tegal, Harga Mulai Rp 350 Ribu
Pengunjung juga dapat menyewa sepeda listrik dan bemo listrik untuk berkeliling kawasan wisata.
Tempat wisata ini beroperasi selama 24 jam termasuk pada hari libur dan tanggal merah.
Mayoritas pengunjung yang datang sejauh ini berasal dari luar kota seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, hingga Surabaya yang mencari suasana tenang di kawasan pegunungan Wonosobo. (ima)
| Hari Kebangkitan Nasional, Bupati Wonosobo Tekankan Adaptasi dan Pelayanan Publik Inklusif |
|
|---|
| Penghijauan Jalur Baru Jalisu Wonosobo, Tanam 200 Bibit Pohon Damar |
|
|---|
| Imigrasi Wonosobo Mulai Siapkan Pola Pelayanan Khusus Paspor Haji 2027 |
|
|---|
| Ngaku Cuma Untung Rp 50 Ribu, Muncikari yang Beroperasi Lewat Michat Ditangkap di Wonosobo |
|
|---|
| 24 KDKMP Wonosobo Selesai Dibangun, Bupati Afif Dorong Segera Operasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260520_Damar-Valley-Glamping-di-Wonosobo_1.jpg)