Wonosobo Hebat

Kunjungan Wisatawan Tembus 3 Juta, Wonosobo Buka Peran Swasta Kelola Destinasi Daerah

TRIBUN JATENG/Imah Masitoh
PERAN SWASTA - Kepala Disparbud Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat. Ke depan peran swasta dianggap penting untuk menjaga keberlangsungan destinasi dan meningkatkan manfaat ekonomi di Wonosobo. 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Pemkab Wonosobo mulai mengupayakan pola baru dalam pengelolaan pariwisata daerah.

Ke depan, peran swasta dianggap penting untuk menjaga keberlangsungan destinasi dan meningkatkan manfaat ekonomi.

Kepala Disparbud Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat menyebut, langkah ini sejalan dengan upaya menghidupkan kembali gairah wisata daerah melalui program Bangga Berwisata Wonosobo.

Baca juga: Angka Perceraian Meningkat di Wonosobo, Faktor Judi Online Jadi Sorotan

Ada 320 Pernikahan Dini di Wonosobo Pada Tahun 2025, Hamil Duluan Jadi Penyebab

“Ini salah satu program kami, membuat program Bangga Berwisata di Wonosobo bisa menggeliat,” ucapnya, Selasa (13/1/2026).

Menurut Fahmi, pengelolaan wisata tidak lagi bisa dilihat semata dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Lonjakan jumlah wisatawan justru menunjukkan bahwa daya tarik wisata yang dikelola non pemerintah semakin diminati dan memberi kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Salah satu contoh keberhasilan pengelolaan wisata oleh pihak swasta tercermin dari capaian Tambi Tea Resort. 

Dalam ajang Wonderful Indonesia Award, destinasi ini masuk empat besar daya tarik wisata yang dikelola bukan oleh pemerintah daerah.

Fahmi menegaskan bahwa meskipun Tambi memiliki keterkaitan dengan pemerintah daerah dalam struktur kepemilikan, pengelolaannya dilakukan sepenuhnya oleh pihak swasta.

Dia menyebut, persaingan dalam ajang tersebut cukup ketat. Salah satunya dengan destinasi daerah lain. 

Dari proses penilaian itu, muncul pembelajaran penting bahwa daya tarik wisata tidak hanya dinilai dari fasilitas fisik semata.

Salah satu aspek yang masih menjadi tantangan bagi banyak destinasi wisata, menurut Fahmi, adalah sertifikasi. 

"Sertifikasi itu penting bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk janji kepada publik," jelasnya.

Proses asesmen yang dilakukan oleh para pakar pariwisata menjadi bagian penting dalam membangun kredibilitas destinasi. 

Fahmi berharap, keberhasilan Tambi dapat diikuti oleh daya tarik wisata lainnya di Wonosobo.

Beberapa wisata Wonosobo yang dikelola swasta ramai dikunjungi wisatawan pada 2025.

Misalnya Kahyangan Skyline dikunjungi 73.958 wisatawan, Kebun Teh Panama dikunjungi 121.168 wisatawan, hingga Tanjungsari Land mencapai 11.958 wisatawan.

Data kunjungan wisata Wonosobo menunjukkan tren yang terus meningkat.

Fahmi menyebut, jumlah wisatawan yang datang ke Wonosobo sepanjang 2025 mencapai sekira 3 juta orang.

Pada periode libur Natal dan Tahun Baru saja, jumlah kunjungan hampir menyentuh angka 200 ribu wisatawan.

Selain wisatawan domestik, Wonosobo juga menerima kunjungan wisatawan mancanegara.

“Sepanjang 2025 mungkin hampir 4.000 turis mancanegara," tambahnya.

Lonjakan ini, menurut Fahmi, merupakan berkah yang harus dikelola bersama.

Baca juga: Warga Wonosobo Diminta Waspada Super Flu, Ini Gejala Awalnya

SPPG Polres Wonosobo Dukung Program MBG, Distribusikan 1.158 Paket untuk Siswa

PAD Terealisasi 89 Persen 

Dari sisi PAD, sektor pariwisata Wonosobo mencatat realisasi sekira 89 persen dari target. 

Target 2025 yang disamakan dengan tahun sebelumnya dinilai kurang sesuai di tengah kondisi efisiensi dan perlambatan ekonomi.

“Target kami Rp8,9 miliar, kami hanya mencapai Rp7,9 miliar," sebutnya.

Meski demikian, Fahmi melihat capaian tersebut tetap sebagai sisi positif bagi pariwisata daerah.

Menurutnya, mayoritas wisatawan justru lebih tertarik pada objek wisata yang dikelola oleh swasta.

“Tiga juta orang yang datang ke Wonosobo. Dia akan lebih tertarik kepada obyek wisata yang dikelola bukan pemerintah,” ucapnya.

Atas dasar itu, Fahmi menyampaikan pandangannya agar pengelolaan sektor wisata mulai melibatkan pihak swasta.

“Mulailah sekarang pertimbangkan, sektor wisata termasuk yang dikelola pemda pun mulai di kelola swasta. Karena itu keniscayaannya,” ungkapnya.

Dia juga menyoroti keterbatasan SDM di sektor pemerintahan yang ke depan akan semakin menantang.

Di awal tahun, Disparbud Kabupaten Wonosobo telah membuka diskusi dengan 23 peminat yang tertarik mengelola sejumlah aset wisata, termasuk di kawasan Menjer dan perbatasan Kledung.

Fahmi menegaskan bahwa seluruh proses akan berjalan transparan dan sesuai mekanisme yang berlaku.

Sebagai langkah awal, Disparbud mendeklarasikan program Bangga Berwisata Wonosobo sebagai payung besar pengembangan sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

Program ini dirancang untuk membangun rasa memiliki masyarakat terhadap pariwisata lokal sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan pihak swasta. (*)