Tribun on Focus

Gagal Menangi Pilkada Kota/Kabupaten Tegal, Dinasti Dewi Sri Mulai Surut

Sebutan Dinasti Dewi Sri berasal dari nama Perusahan Otobus

Gagal Menangi Pilkada Kota/Kabupaten Tegal, Dinasti Dewi Sri Mulai Surut
ilustrasi

JIKA saja Ikmal Jaya terpilih lagi pada Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Tegal dan sang kakak, Moh Edi Utomo, berjaya pada Pemilihan Bupati (Pilbup) Tegal, yang digelar pada hari yang sama, 27 Oktober lalu, sukses Dinasti Dewi Sri bisa semakin lengkap.

Sayang, keduanya harus mengakui keunggulan rival masing-masing. Di Kota Tegal, kepemimpinan Ikmal sebagai wali kota harus berakhir, dan digantikan Siti Masitha Soeparno, sedangkan Edi harus mengakui kedigdayaan dalang mbeling, Ki Enthus Susmono.

Kegagalan Ikmal di Pilwakot Tegal, yang kebetulan berbarengan dengan kekalahan sang kakak di Pilbup Tegal, disebut-sebut sebagai tanda mulai surutnya Dinasti Dewi Sri.

Kini keluarga besar pemilik Perusahaan Otobus (PO) Dewi Sri itu "hanya" memiliki seorang kepala daerah, yakni Idza Priyanti yang merupakan bupati Brebes, dan seorang wakil, yakni Wakil Bupati Pemalang, Mukti Agung Wibowo. Benarkah Dinasti Dewi Sri telah surut?

Sebutan Dinasti Dewi Sri berasal dari nama Perusahan Otobus (PO) Dewi Sri, yang dimiliki Rokhayah, ibunda Ikmal bersaudara. Merek "Dinasti Dewi Sri" bermula dari kesuksesan Ikmal Jaya memenangi Pilwakot Tegal 2008, saat itu berpasangan dengan Habib Ali Zaenal Abidin.

Dua tahun kemudian, Mukti Agung Wibowo, adik kandung Ikmal, menjajal peruntungan di Pilbup Pemalang 2010, berpasangan dengan calon bupati, Junaedi. Dua tahun berikutnya, Idza Priyanti, sukses mengalahkan bupati petahana, Agung Widyantoro, dalam Pilbup Brebes 2012.

Sebelumnya, Idza menjabat sebagai Wakil Bupati Brebes Pergantian Antarwaktu (PAW) pada periode 2011-2012. Dia dilantik menjadi wakil bupati Brebes pada 7 Oktober 2012, mengisi kekosongan jabatan itu, setelah wakil bupati sebelumnya, Agung Widyantoro, "naik" menjadi bupati.

Dari enam anak Rokhayah, hanya dua orang yang hingga kini belum menampakkan ketertarikan menjadi politikus, dan lebih memilih menjadi pengusaha.

Mengejutkan

Ada dua nama yang menjadi "biang" surutnya karier cemerlang Dinasti Dewi Sri di wilayah Tegal dan sekitarnya. Yang pertama, Siti Masitha Soeparno, yang secara mengejutkan menumbangkan Wali Kota incumbent, Ikmal Jaya, pada Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Tegal.

Yang kedua, Enthus Susmono, yang mengagalkan "kemenangan sesaat" Moh Edi Utomo, pada Pemilihan Bupati (Pilbup) Tegal.

Tentang Enthus, atau lebih populer dengan sebutan Ki Enthus, sebagian orang sudah paham sepak terjangnya. Selain dikenal sebagai dalang wayang kulit dan golek dengan kualitas paripurna, Ki Enthus juga berkiprah di jagat perpolitikan Tegal.

Bahkan, pada November 2009, dia pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tegal ini karena keterlibatan demonstrasi sebelum penghitungan rekapiltulasi dan penetapan perolehan suara pada Pikada Tegal 2008.

Ki Enthus dituding sebagai provokator terhadap demonstran, yang telah melakukan tindakan anarki dengan merusak aset Pemkab Tegal, yaitu pagar besi.

Namun, jika ditanya siapa Siti Masitha, banyak orang yang menggelengkan kepala pertanda tidak tahu. Calon yang memopulerkan diri dengan panggilan Bunda Sitha itu "hadir" pada hari terakhir pendaftaran calon wali kota Tegal, 28 Juli 2013.

Dia diusung sebagai calon bupati oleh Partai Golkar, berpasangan dengan Ketua DPD Partai Golkar Kota Tegal, HM Nursholeh, sebagai calon wakil bupati. Padahal sebelumnya, Nursholeh sempat digadang-gadang oleh Golkar sebagai bakal calon wali kota.

Siti Masitha merupakan anak mantan direktur utama Garuda Indonesia. Sebelum bertarung di Pilwakot Tegal, aktivitas dia lebih banyak di Jakarta. Dia banyak berkiprah di bidang sosial, mulai dari penyelenggaraan pengobatan, perhatian pada keluarga prasejahtera, hingga peduli HIV/AIDS. Tawaran untuk menjadi orang pertama di Pemkot Tegal, membuat Siti Masitha tertarik.

"Latar belakang saya maju dalam Pilwalkot Tegal karena ingin mengabdi dan memajukan Kota Tegal," akunya.

Selama masa kampanye Pilwakot, Siti Masitha rajin blusukan. "Saya berangkat dari nol, saya juga bukan dari Tegal. Tidak ada relasi di sini. Saya datang betul-betul ingin mengabdi. Modal yang saya bawa hanya nawaitu untuk mengabdi kepada masyarakat," katanya. (ysn)

Penulis: YS adi nugroho
Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved