Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dulu Pernah Ekspor Hingga ke Eropa, Begini Sekarang Nasib Perajin Gerabah di Demak

Menjelang dan setelah hari raya Iduladha, beberapa tempat di Kabupaten Demak dibanjiri para penjual gerabah

Penulis: rival al manaf | Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUN JATENG/RIVAL ALMANAF
Pedagang gerabah di Jalan Sultan Fatah, Demak, Senin (4/9/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Menjelang dan setelah hari raya Iduladha, beberapa tempat di Kabupaten Demak dibanjiri para penjual gerabah, mulai dari Jalan Sultan Fatah, hingga di sekitar Terminal Demak.

Momen Iduladha yang dibarengi dengan grebeg besar di Demak jadi penarik para pedagang.

Saat grebeg besar, masyarakat kota wali tumpah ruaah menyaksikan ritual arak-arakan tumpeng.

Namun, salah satu perajin gerabah, Sugiyanto (52) menyatakan hasil penjualan tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Baca: Meski Baru Jadi Peserta 6 Bulan, BPJS Ketengakerjaan Tetap Bayarkan Klaim

"Mungkin minat masyarakat terhadap gerabah lokal mulai berkurang, sekarang yang sedang naik di daerah Solo atau Yogya," jelas Giyanto, Senin (4/9/2017).

Menurutnya, pembeli gerabah biasanya adalah orang yang sedang berwisata. Oleh karena itu ia beranggapan hasil penjualan akan meningkat seiring dengan banyaknya kunjungan wisatawan.

"Kerajinan gerabah kan biasanya jadi cindera mata dan oleh-oleh, makanya di Solo atau Yogyakarta yang penjualannya bagus terlebih di sana banyak wisatawan asing," bebernya.

Ia memaparkan, tiga tahun lalu sempat menjual gerabah hingga pasar luar negeri.

Pria asal Mayong, Jepara itu menyatakan sempat beberapa kali mengekspor hasil karyanya.

Baca: Duh, Kerusakan Terumbu Karang di Karimunjawa Meluas, Gara-gara Kapal Parkir Sembarangan

"Dulu pernah kirim ke Swiss, Belgia, dan Belanda, sekarang sudah nggak pernah karena kebanyakan juga beralih ke Solo dan Yogya," bebernya.

Dahulu ia sempat mengekspor guci untuk hotel-hotel di eropa.

Baca: KISAH Anak Penggali Kubur yang Berhasil Jadi Dokter dan Raih S3 di Jepang

Kini karena sudah tidak ada pesanan ekspor ia hanya memproduksi celengan dan kendi.

"Harapannya tentu kunjungan wisatawan meningkat maka akan berpengaruh juga dengan penjualan kami," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved