Liputan Khusus

Korban Teror Pembakaran Mobil di Semarang Tak Bisa Narik Taksi

Padahal mobil yang dibakar oleh pelaku teror di semarang tersebut merupakan modal utama mencari nafkah sebagai pengemudi Taksi daring

Korban Teror Pembakaran Mobil di Semarang Tak Bisa Narik Taksi
Tribunjateng.com/Muh Radlis
Dugaan pembakaran mobil oleh orang tak dikenal kembali terjadi. Kali ini mobil Daihatsu Ayla warna putih di Jalan Ciliwung, Mlatiharjo, Semarang Timur, Kota Semarang, menjadi sasarannya, Kamis (31/1/2019) dini hari. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Muh Fahroni terlihat sibuk dengan alat perkakas di halaman depan rumah, Jalan Irigasi RT03 RW04, Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Jumat (8/2). Sejanak ia menghentikan aktifitasnya dan mulai berbincang.

Roni demikian sapaan akrabnya bercerita, sejak kejadian pembakaran mobil miliknya. dirinya tidak bisa lagi bekerja. Kendaraan tersebut harus masuk bengkel dan hingga kini pengerjaan perbaikan belum juga selesai.

Padahal mobil tersebut merupakan modal utama mencari nafkah sebagai pengemudi Taksi daring. Istrinya hanya bekerja sebagai guru pembantu di dekat rumah. Kini ia hanya menghabiskan waktu di rumah menunggu kendaraan Nissan Datsun warna putih selesai diperbaiki.

Roni adalah satu dari sekian banyak korban aksi pembakaran kendaraan. Kejadian tersebut menimpanya pada Selasa 8 Januari 2019, sekitar pukul 03.30. Saat kejadian, ia masih terlelap tidur. Tiba-tiba ada api disertai ledakan di mobilnya yang terparkir di depan rumah, sehingga membuat warga sekitar kaget.

Awalnya ia mengira terjadi konsleting aliran listrik pada aki mobil hingga mendengar suara ledakan, namun ketika ditelusuri ada benda mencurigakan berupa kain basah dengan bau bensin. Padahal lokasi kediaman Roni merupakan rumah padat penduduk. Berada di tengah kampung dengan jalan depan rumah yang hanya cukup dilalui satu mobil.

Roni bercerita, dua tahun lalu ia sengaja membeli mobil second keluaran tahun 2015 untuk bekerja sebagai pengemudi Taksi online. Kendaraan itu dibelinya secara tunai dan diansuransikan all risk sebagai persyaratan mendaftar sebagai pengemudi Taksi daring.

Setiap hari premi asuransi yang mesti dibayar sekitar Rp 70 ribu, dipotong langsung dari pendapatan sebagai pengemudi Taksi online. Beruntung kerusakan akibat pembakaran itu pun sepenuhnya tercover oleh pihak asuransi, Bengkel menjanjikan mobilnya selesai diperbaiki Selasa (12/2).

“Untungnya masuk asuransi, jadi nggak keluar biaya. Saya estimasikan biaya perbaikannya sekitar tujuh jutaan lebih,” imbuhnya.

Rencananya ketika mobil tersebut selesai diperbaiki akan tetap digunakan untuk bekerja sebagai pengemudi Taksi online. Hingga kini belum ada niatan menjual atau menawarkan kendaraan tersebut kepada pihak lain.

Meski tidak mengeluarkan biaya untuk perbaikan mobil, Roni merasa dirugikan karena tidak bisa bekerja. Padahal menurutnya setiap harinya penghasilan dari Taksi online cukup lumayan, sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.

Halaman
1234
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved