SUCCESS STORY

Ini Dia Sosok Muntohar Pebisnis Sukses Hiburan Rakyat

Ini Dia Sosok Muntohar Pebisnis Sukses Hiburan Rakyat

Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/HERMAWAN HANDAKA
Ini Dia Sosok Muntohar Pebisnis Sukses Hiburan Rakyat, yang kini jadi Anggota DPRD Kabupaten Demak Jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Pasar malam atau dalam arti lain pasar rakyat menjadi bisnis yang ditekuni H Muntohar sejak 2004 hingga sekarang. Tak mudah mengembangkan bahkan bertahan di tengah gerusan hiburan yang lebih modern dan diminati masyarakat.

Namun, Muntohar punya strategi hingga bisa terus menggelar hiburan rakyat di berbagai daerah di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, juga Jawa Tengah. Berikut penuturan Direktur Utama CV Diana Ria Enterprise Muntohar kepada wartawan Tribun Jateng Deni Setiawan, Hermawan Handaka, dan YS Adi Nugroho di Demak, Sabtu (22/3).

Kapan Anda mulai serius menjalani bisnis pasar malam (pasar rakyat) ini?
Saat itu, saya masih berjualan bakso bersama ayah mertua, Subadi, dan ikut keliling Gembira Ria, grup pasar malam milik Pak Martono. Saya duduk termenung dan memandang dari kejauhan wahana kereta mini yang sedang dijalankan dan dipadati pengunjung pasar malam. Muncul pertanyaan harga wahana tersebut. Akhirnya, saya bertanya kepada sang mandor atau koordinator pasar malam.

Dia menjelaskan, butuh dana Rp 25 juta - Rp 35 juta per set untuk memilikinya. Setelah berpikir, saya beranikan diri menggunakan tabungan Rp 10 juta untuk membuat kereta mini seperti di pasar malam. Memang tidak langsung jadi. Kekurangannya, saya setor sedikit demi sedikit ke tukang las sampai akhirnya kereta mini itu rampung sekitar 2001. Untuk mengelola, saya titipkan ke Martono dan saya menerima bagi hasil.

Perolehan uangnya saya kumpulkan lagi hingga 2003 saya bisa memiliki satu unit wahana permainan dan terus bertambah. Hingga akhirnya, tahun 2004, saya memberanikan diri menjalankan dan berkeliling tanpa ikut Martono. Wahananya memang belum komplit, tapi cukup menarik, misalnya kereta mini, komedi putar, juga kincir angin. Bersyukur, Martono merestui usaha saya ini.

Bagaimana mengembangkan?
Di awal menjalankan bisnis ini, saya menerapkan sistem mengontrak. Maksudnya, untuk melengkapi wahana permainan, saya menyewa beberapa set wahana kepada pengusaha di wilayah kami tampil. Misal, ketika itu, kami bekerja sama dengan Berkah Ria. Dalam satu lokasi, minimal membutuhkan enam loket. Konsep sewa yang saya terapkan selama sekitar empat tahun atau sejak 2004-2008.

Tapi, dari pendapatan menggelar pasar malam, saya sisihkan dan membeli wahana permainan. Dan 2008, saya bisa menambah enam set mainan. Di situ saya merasa memperoleh berkah dari bisnis ini. Pasar malam melalui penyediaan berbagai wahana permainan menjadi denyut nadi saya menafkahi istri dan anak saya. Termasuk juga para karyawan yang saya rekrut. (tribunjateng/deni/hermawan/ysn)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved