Liputan Khusus
Supriyadi Mengaku Ditawari Beli Ijazah S2 Rp 35 Juta
Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi mengaku praktik jual beli ijazah di kalangan pejabat dan anggota dewan di Jawa Tengah bukanlah sesuatu yang baru.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi mengaku praktik jual beli ijazah di kalangan pejabat dan anggota dewan di Jawa Tengah bukanlah sesuatu yang baru.
Supriyadi baru-baru ini pun mendapatkan tawaran membeli ijazah dari sebuah universitas swasta di Kota Semarang. “Saya ditawari mendapatkan ijazah S2 jurusan hukum hanya dengan Rp 35 juta. Paket tawaran itu tidak mengharuskan saya kuliah. Saya tidak tahu apakah itu benar-benar asli dan tercatat dari kampusnya namun yang jelas universitas itu memang ada,” kata Supriyadi kepada Tribun Jateng, tengah pekan lalu.
Supriyadi yang merupakan alumnus S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang itu menolak tawaran membeli ijazah S2, meskipun harganya tidak terlampau mahal. “Bagi saya ijazah tidak terlalu penting, namun saya lebih suka mendapatkan ilmunya. Kalau nanti ada waktu dan kesempatan, saya akan memilih kuliah lewat jalur resmi saja,” katanya.
Saat ditanya apakah ada anggota dewan maupun pejabat di Semarang yang diduga membeli ijazah, Supriyadi tidak membantahnya. Supriyadi mengaku mengetahui adanya sejumlah oknum itu membeli ijazah, mulai ijazah S2, S1, dan bahkan ijazah SLTA. “Biasanya yang membeli ijazah S2 atau S1 itu untuk gengsi-gengsian saja,” ujar politisi PDIP tersebut.
Supriyadi meminta pemerintah bertindak tegas terhadap para pejabat yang memakai ijazah palsu untuk memuluskan kariernya di pemerintahan. “Ada saatnya pemerintah harus ‘bersih-bersih’ dan memeriksa satu persatu pejabat. Apakah ijazah mereka itu benar-benar asli atau hanya dari membeli saja,” ungkapnya.
Seperti ramai diberitakan sejumlah perguruan tinggi swasta di Indonesia diduga melakukan praktik jual beli ijazah. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi M Nasir dalam sidak di University of Berkley, di Jalan Proklamasi, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, pada 22 Mei lalu menemukan adanya dugaan praktik jual beli ijazah. Sejumlah pejabat dan anggota DPR diduga membeli ijazah dari University of Berkley. Satreskrim Polresta Medan kemudian menangkap Rektor University of Sumatera, Marsaid Yushar di Kompleks Perumahan Mekar Sari, Jalan Satria Ujung, Delitua, Deliserdang, Sumatera Utara, Rabu (27/5). Marsaid ditangkap karena memperjual-belikan ijazah seharga puluhan juta rupiah.
Penelusuran Tribun
Sekilas sebuah kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) di Semarang Selatan tampak sepi, tengah pekan lalu. Tidak ada satu pun kendaraan bermotor yang parkir di sana. Ketika Tribun Jateng mencoba masuk ke sana, pagi itu memang sepi. Setelah mencari pegawai kampus, akhirnya ada seorang pria yang datang menerima tamu. Ia mengakui bahwa pada pagi hari kampusnya memang sepi. "Kebanyakan mahasiswa kuliah sore soalnya banyak yang kerja," katanya.
Pria itu pun langsung mengambilkan brosur dengan penawaran biaya kuliah cukup murah. Mahasiswa kelas pagi cukup membayar Rp 6 juta yang merupakan biaya SPP plus biaya tiap SKS hingga lulus. Sedangkan untuk kelas reguler sore, mahasiswa cukup membayar Rp 9,5 juta hingga lulus. Penawaran yang tertera di brosurnya pun cukup menarik karena mahasiswa dijanjikan uang saku tiap semester. Sedangkan untuk biaya pendaftaran dan matrikulasi Rp 250 ribu.
Ketika Tribun bertanya tentang jalur khusus mendapat ijazah tanpa kuliah, pria itu menjawab tidak tahu. Ia mengarahkan untuk berbicara langsung ke pimpinannya. "Kalau itu ngobrol sama pimpinan saya saja," tuturnya.
Lalu Tribun pun menemui seorang wanita yang mengaku sebagai pimpinan kampus. Dia langsung menggelengkan kepala. Ia mengatakan kampusnya takut menjual ijazah karena sudah terpantau sistem online. Dia menjelaskan bahwa kampusnya diharuskan melaporkan mahasiswa yang mendaftar ke situs Kementerian Riset Teknologi dan Dikti tiap semester. Karena itu ia tidak berani menjual ijazah. "Kuliah di sini bisa cepet kok, hanya tiga tahun," ucapnya.
Kuliah santai
Kemudian Tribun beralih ke sebuah STIE di wilayah Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Bangunan dua lantai di sebuah kampung membuat sekolah tinggi tampak seperti bangunan sekolah. Ketika Tribun mendatangi STIE tersebut tampak seorang perempuan duduk di bagian depan kampus. Ia langsung mempersilakan Tribun masuk ke kantornya.
Perbincangan awalnya mengarah pada biaya kuliah yang cukup murah yaitu sekitar Rp 200 ribuan per bulan atau Rp 1,8 juta per semester. Untuk biaya almamater dan sebagainya mahasiswa harus membayar biaya tambahan Rp 1,1 juta. Perempuan yang sebut saja bernama Indah itu mempromosikan bahwa kuliah di tempatnya bisa santai. Terlambat asal datang tidak masalah. Sistem perkuliahannya tidak ketat. "Misalnya kalau ke luar kota saat skripsi bisa bimbingan lewat email, tapi tergantung dosennya," tuturnya.
Indah lalu membahas pemberitaan maraknya praktik jual beli ijazah. Ia mengatakan meskipun perkuliahanya santai, tapi kampus kecilnya tidak melayani praktik semacam itu. Ia menyatakan kampusnya tidak berani bertransaksi di luar ketentuan pemerintah. Apalagi ia wajib melaporkan mahasiswanya ke situs Menristekdikti.