Rabu, 29 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

Menelusuri Jejak Pahlawan Kemerdekaan Tionghoa di Semarang (1)

Sebuah toko alat tulis di Jalan Pekojan no 50 ternyata menyimpan kisah perjuangan etnis Tionghoa bernama Lie Yun Fong atau Ali Sudjianto

Tayang:
Istimewa/Bakti Buwono Budiasto
Lie Yun Fong 

TRIBUNJATENG.CM, SEMARANG -- Banyak pelajar yang tidak mengetahui keberadaan pejuang etnis Tionghoa. Mereka mengaku tidak mendapatkan nama pejuang etnis Tionghoa di mata pelajaran Sejarah. Padahal sebenarnya etnis Tionghoa turut memberi sumbangsih bagi kemerdekaan RI.

Faizal Aditya Bagaskara misalnya. Siswa kelas XII SMAN 1 Semarang ini hanya mengenal sosok Cheng Ho Sam Poo Kong.

"Kalau pejuang etnis Tionghoa saya baru tahu. Sebelumnya belum pernah dengar. Tahunya Laksamana Cheng Ho Sam Poo Kong," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Dimas Aditya. Siswa kelas XII SMAN 1 Semarang baru mengetahui jika ada warga etnis Tionghoa ikut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia.

"Siapa saja boleh ikut berpartisipasi. Meski beda ras tapi satu tujuan untuk berjuang bebas dari penjajahan," ujarnya.

Sebuah toko alat tulis di Jalan Pekojan no 50 ternyata menyimpan kisah perjuangan etnis Tionghoa bernama Lie Yun Fong atau Ali Sudjianto pada masa kemerdekaan. Dari luar, toko Boma yang berada di kawasan Pecinan itu tampak seperti toko lainnya. Aktivitas jual beli layaknya toko juga tidak ada yang spesial.

Namun, begitu masuk di sebuah ruang kerja di bagian belakang toko, atmosfer perjuangan tampak. Di sebuah dinding dipajang foto-foto almarhum Lie Yun Fong yang merupakan pejuang 45 bersama Adam Malik. Tak lupa, gambar Presiden Jokowi dan wakilnya Jusuf Kalla juga ada.

"Ayah saya dulu juga seorang pejuang di masa akhir penjajahan Jepang hingga Agresi Militer Belanda yang membuat ibu kota Indonesia pindah ke Yogyakarta," kata Leni Kusumawati (64) atau Lie Ie Tjing mengawali cerita perjuangan ayahnya.

Sembari melihat foto ayahnya di dinding, ibu dua anak itu mengatakan bahwa ayahnya berjuang dengan pena atau jadi wartawan. Satu kantor dengan Adam Malik di Yogyakarta, Ali merupakan salah satu wartawan koran Sin Po dan menulis di tempat lain.

Berdasarkan cerita ayahnya, ketika agresi militer, pihak Belanda melalui NATO tidak hanya menyerang Indonesia secara fisik, namun, juga propaganda melalui media bahwa rakyat Indonesia masih ingin diperintah di bawah Belanda. Kabar itu disebarkan ke dunia internasional.

Ali yang kala itu bisa lima bahasa yaitu Mandarin, Belanda, Inggris, Jepang dan Indonesia, menahan gempuran propaganda itu dengan tulisan sesuai fakta yaitu rakyat Indonesia ingin merdeka.

Mulai 1944 hingga 1949, Ayahnya terus menulis berita perlawanan rakyat Indonesia. Ia tidak hanya menulis untuk lokal tetapi juga mengirimkan tulisannya ke beberapa media internasional seperti BBC.

"Ayah saya cerita bahwa dirinya harus membuat berita kontra agar masyarakat internasional saat itu tahu fakta yang sebenarnya," kata Leni dengan mata sembabnya.

Ia mengatakan saat kemerdekaan banyak etnis Tionghoa yang turut berjuang. Tidak hanya Tionghoa, tetapi seluruh suku di Indonesia berjuang bersama tanpa ada perbedaan apapun. Masing-masing berjuang dengan caranya.

Berbeda dengan ayahnya, paman Leni justru memilih mengangkat senjata di Magelang. Pamannya ikut berjuang di garis depan bersama pejuang lainnya. Ada juga warga Tionghoa yang membantu perjuangan dengan meminjamkan rumahnya untuk pejuang dan tentara.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved