Breaking News:

Menelusuri Sejarah Kopi Muria Asal Kudus

Sejarah kopi dari Muria sangat panjang, diawali tahun 1825 ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes Graaf Van Den Bosch

wikipedia
Johannes Graaf van den Bosch 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS -- Harta karun yang terpendam di Pegunungan Muria. Sebutan itu pantas untuk kopi Muria khas Kudus. 452 hektare hamparan kebun kopi di lereng Pegunungan Muria itu mampu bersaing di pasar global.

Lahan seluas 452 hektare itu berada di Desa Colo, Lau, dan Japan Kecamatan Dawe Kudus. Mayoritas lahan kopi itu ditanami bibit jenis robusta, namun ada juga jenis arabica. Tiap satu hektare lahan tahun ini mampu menghasilkan kopi dengan kisaran 1,5- 2 ton.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Kabupaten Kudus, Budi Santoso mengatakan pemkab melakukan berbagai langkah agar kopi khas lereng pegunungan Muria Kudus ini lebih dikenal.

Salah satu caranya dengan melakukan branding kopi Muria ke khalayak luas. Pihaknya mendorong petani agar kopi yang dipanen benar-benar sudah matang di pohon atau petik merah.

"Agar kualitas yang dihasilkan bagus. Lokasi ini juga sudah dikelola kelompok sadar wisata (pokdarwis) jadi tidak hanya menawarkan kopi khas Muria saja, namun juga pemandangan alamnya," jelas Budi.

Menurutnya, hasil panen kopi dipasarkan di sejumlah daerah sekitar Kudus, misalnya di Kabupaten Pati. Peluang pasar ekspor, juga terbuka karena anggota pokdarwis punya hubungan luas dengan kelompok target pasar.

Sejarah kopi dari Muria sangat panjang, diawali tahun 1825 ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes Graaf Van Den Bosch menerapkan peraturan tanam paksa di seluruh Jawa. Tahun 1860 ia membagi seluruh hutan di Pulau Jawa dalam 13 daerah hutan.

Johannes graaf van den Bosch lahir di Herwijnen, Lingewaal, 1 Februari 1780 dan meninggal di Den Haag, 28 Januari 1844 pada umur 63 tahun).

Dia adalah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-43. Ia memerintah antara tahun 1830 – 1834. Pada masa pemerintahannya Tanam Paksa (Cultuurstelsel) mulai direalisasi, setelah sebelumnya hanya merupakan konsep kajian yang dibuat untuk menambah kas pemerintah kolonial maupun negara induk Belanda yang kehabisan dana karena peperangan di Eropa maupun daerah koloni (terutama di Jawa dan Pulau Sumatera).

Tahun 1910 pemerintah kolonial menghapuskan program tanam paksa dan menetapkan bagian hutan di lereng Muria sebagai kawasan hutan. Setelah terbit keputusan tersebut, mulai 1920 tiap petani yang memiliki lahan kopi di tanah milik negara diberi hak memungut hasil selama 5 tahun, yang dikenal dengan Koffie Met Plukrecht (KMP).

Halaman
123
Tags
kopi
Kudus
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved