Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tenaga Kerja di Jawa Tengah Masih Didominasi Lulusan SD

Data BPS Jawa Tengah menunjukan, tenaga kerja hingga Agustus 2015 masih didominasi oleh tingkatan SD sebesar 8,61 juta orang

Penulis: hermawan Endra | Editor: rustam aji

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hermawan Endra Wijonarko

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tenaga kerja di Jawa Tengah didomonasi tingkatan SD mencapai 52,38 persen, sementara penduduk yang bekerja dengan pendidikan sarjana ke atas hanya 7,71 persen. Data BPS Jawa Tengah menunjukan, tenaga kerja hingga Agustus 2015 masih didominasi oleh tingkatan SD sebesar 8,61 juta orang, disusul SMP 3,16 juta orang atau 19,21 persen.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jateng, Jam Jam Zamachsyari mengatakan, meskipun tenaga kerja lulusan SD masih mendominasi namun di tahun ini mengalami penurunan dibanding sebelumnya.

Dalam periode setahun terakhir yakni Agustus 2014-Agustus 2015, penduduk bekerja dengan pendidikan rendah menurun dari 73,12 menjadi 71,59 persen. Sementara penduduk bekerja berpendidikan tinggi juga mengalami peningkatan dari 6,97 persen pada Agustus 2014 menjadi 7,71 persen pada Agustus 2015.

"Perbaikan kualitas tenaga kerja ini merupakan dampak dari kebikjakan pemerintah di bidang pendidikan dasar dalam bentuk pembebasan biaya untuk SD dan SMP," ujarnya.

Menurutnya, selama setahun terakhir penyerapan tenaga kerja mengalami kenaikan hampir disemua sektor. Kenaikan penyerapan terutama terjadi pada sektor konstruksi mencapai 260 ribu orang. Sektor Industri 94 ribu orang dan Sektor Perdagangan 88 ribu orang.

Sementara itu, Ketua Apindo Jateng, Frans Kongi mengakui, masih banyak tenaga kerja yang lulusan sekolah dasar dan banyak pabrik yang menggunakan tenaga kerja SD. Namun demikian, meskipun banyak tenaga kerja yang lulusan SD namun keahliannya tidak perlu diragukan. "Soal tenaga kerja yang lulusan SD, tidak perlu pesimistis, jangan anggap enteng merek yang lulusan SD, banyak lulusan SD tapai punya integritas bagus," ujarnya.

Dikatakannya, Manufaktur di Jateng belum banyak yang menggunakan teknologi tinggi yang tidak begitu rumit, sehingga untuk untuk tenaga kerja SD masih memiliki potensi besar karena mereka mau belajar. “Bukan berarti perusahaan tidak membutuhkan orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kita tetap butuh untuk berapa bidang,” ucapnya.

Terpenting kata Dia adalah, sekarang pekerja harus didorong dan dilatih supaya semakin terampil. Di pabrik-pabrik tidak terlalu memandang pendidikan, tetapi lebih pada skill yang dibutuhkan. “Lebih pada keahliannya, bukan pendidikannya. Siapa yang bisa bekerja Dia yang mendapatkan tempat, “ tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved