Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Jihad Antikorupsi

Korupsi telah menjadi biasa.Tak ada hari tanpa korupsi.Tak semua pejabat yang bersih dari korupsi.

tribunjateng/raka f pujangga

TRIBUNJATENG.COM -- Korupsi telah menjadi biasa.Tak ada hari tanpa korupsi.Tak semua pejabat yang bersih dari korupsi. Namun, penegak hukum, termasuk komisi pemberantasan korupsi (KPK) seakan tak kuasa untuk memberantas tikus-tikus nakal itu. KPK seakan seperti kucing kurus yang takut dengan tikus werok (tikus besar). Nyali kucing telah hilang di depan endusan tikus. Kegarangan kucing pun tak mempan menghalau tikus yang telah nyaman bersama “sang empunya”.

Tikus koruptor telah banyak bersembunyi di bawah ketiak penguasa. Sehingga mereka bebas melenggang dan menghabiskan uang bangsa demi kepentingan pribadi dan golongan.Tikus berdasi dan berbaju necis juga telah berjejer rapi saling menyelamatkan sat usama lain. Mereka telah bersekutu dusta untuk merampok seluruh kekayaan rakyat Indonesia.

Perilaku itulah yang telah menimbulkan kerusakan mahadahsyat. Membuat rapuh sendi-sendi dan tatanan hidup kebangsaan dan ketatanegaraan. Kita menjadi bangsa yang tidak kompetitif—untuk tidak menyebut terbelakang.

Korupsi muncul sebagai jalan tercepat menuju kebahagiaan dunia. Dengan korupsi orang akan kaya dan dihormat ioleh masyarakat. Pasalnya, orang kaya mempunyai nilai lebih di tengah masyarakat. Masyarakat akan tundukpada orang kaya walaupun sombong dan congkak.

Orang miskin tak akan pernah mendapat perhatian di tengah sistem korup. Mereka akan terus tersisih dalam kebangsaan dan kenegaraan. Orang miskin hanya jadi tumbal dan penyedap di tengah riuhnya demokrasi liberal.

Sikap “arogan” ini ditengari oleh gaya hidup glamour dan malu disebut miskin. Padahal kita sering melihat realitas di lapangan bahwa sebagian pejabat pemerintahan lebih bangga disebut miskin ketika akan datang bantuan, baik dari daerah atau pusat. Mereka akan mendapatkan berapa persen bagian dar idana yang turun.

Berlomba-lomba

Korupsi pun seakan menjadi sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, jika tidak korupsi maka uang akan dikorup oleh orang lain. Berlomba-lomba dalam korupsi sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Mungkin perkataan yang tepat dari mereka adalah “hari gini, tidak korupsi, apa kata dunia”.

Maraknya korupsi di negeri ini juga menunjukkan betapa pemimpin bangsa lebih memikirkan "aku" ketimbang "kita". "Aku" harus makmur, tanpa memedulikan orang lain (kita). Dalam benak mereka sudah tertanam falsafah bahwa tanpa kemakmuran diri sendiri sulit untuk memikirkan kemakmuran orang banyak!

Hilangnya Akal Sehat

Kegilaan menguras uang negara mengalahkan kewarasan akal sehat. Akal sehat sebagai pembeda antara manusia dan makhluk lain menjadi tumpul. Akal sehat menjadi sesuatu yang mahal di Republik ini.

Hilangnya akal sehat dari keluruhan budi manusia merupakan periode terendah dalam peradaban makhluk. Kehidupan manusia dipimpin oleh nafsu. Maka tidak aneh jika setiap saat bangsa ini dipenuhi kegaduhan. Gaduh tak berkesudahan, saling serang, dan marah, seakan kontras dengan kehidupan masyarakat yang compang-camping.

Lebih lanjut, pejabat Republik ini kini telahmelakukan selingkuh dengan kekuasaan (kekayaan). Mereka lebih sibuk memikirkan bagaimana pundi-pundi kekayaan selalu penuh dengan harta benda yang melimpah dan melupakan kewajibannya sebagaipamong (pemimpin) masyarakat.

Mereka abai terhadap nasib wong cilik yang tergilas kereta api; kemiskinan yang terus menurun kepada anak cucu; pengangguran pekerja pribumi di tengah serbuan tenaga kerja asing di mega proyek pembangunan; dan seterusnya.

Tumbal

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved