Opini
Jihad Antikorupsi
Korupsi telah menjadi biasa.Tak ada hari tanpa korupsi.Tak semua pejabat yang bersih dari korupsi.
Penderitaan rakyat bagaikan tumbal keberlangsungan kekuasaan. Sebagai gantinya mereka akan mendapatkan kekayaan dengan cepat dan mudah. Semakin banyak rakyat menderita, semakin banyak pula kekayaan yang akan didapatkan oleh pejabat.
Meminjam istilah Sindhunata, persis seperti perilaku muja yang dilakukan oleh masyarakat tradisonal. Semakin banyak persembahan—sebagai tumbal--, maka harta kekayaan bertambah banyak dan pesat.
Sudah saatnya pejabat di negeri ini mampu menjadi pemimpin. Darma satria seorang pemimpin adalah berdiri di depan, berani mengatakan kebenaran walaupun di sekelilingnya berperilaku buruk. Mendidik dan menjadi teladan bagi yang dipimpin. Jika seorang pemimpin terlambat dalam mengambil keputusan serta selalu menjadi benteng hidup bagi kelompoknya sendiri, maka keadaban publik akan terciderai. Masalah akan semakin menumpuk dan sulit untuk diurai dengan baik.
Darma satria pemimpin merupakan manifestasi ke-Indonesia-an yang beradab. Memimpin dengan kejujuran, keberanian mengambil sikap atas nama kepentingan umum dan menjauhkan diri dari niatan menyenangkan segelintir kelompok.
Saat pemimpin mampu seperti itu, makaisland of integrity(daerah bebas korupsi) (BambangSoesatyo, 2011), dapat mewujud. Island of integrity merupakan kerja keadaban orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap bangsa. Island of integrity dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan kantor. Saat hal itu telah menjadi budaya, maka korupsi dapat ditekan sedemikian rupa. Orang akan merasa malu jika melakukan pelanggaran (korupsi). Inilah jihad antikorupsi. (*)
Benni Setiawan
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta, PenelitiMaarif Institute for Culture and Humanity
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/buku-tk-jihad_20160205_154349.jpg)