Sabtu, 23 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

Memahami Padepokan

Memahami Padepokan. Tiga padepokan sedang membuat bingung publik. Kebingungan bermula dari ulah tiga tokoh tenar, rajin diberitakan di koran dan TV.

Tayang:
Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/CETAK
Opini ditulis oleh Bandung Mawardi | Kritikus Sastra 

Opini ditulis oleh Bandung Mawardi | Kritikus Sastra

TRIBUNJATENG.COM - Tiga padepokan sedang membuat bingung publik. Kebingungan bermula dari ulah tiga tokoh tenar, rajin diberitakan di koran dan televisi: Gatot Brajamusti, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dan Satrio Aji. Mereka dianggap pemimpin spiritual atau guru besar oleh ribuan pengikut.

Semula, orang-orang melihat padepokan itu tempat khas dalam tampilan arsitektur. Padepokan biasa megah, anggun, dan luas. Pesona padepokan sering dipancarkan melalui penggunaan simbol-simbol bertaut ke agama atau adat. Ketokohan pimpinan tentu pantas disahkan dengan pemasangan foto atau gambar besar di tempat pilihan.

Tampilan bangunan memungkinkan pemilik atau pimpinan dipandang sebagai manusia agung, manusia sakti, dan manusia suci. Padepokan ramai sepanjang hari dengan pelbagai ritual-ritual.

Padepokan telah berarti “ritual” sesuai perintah pimpinan. Para pengikut menjalankan ritual tanpa sangsi dan protes. Ulama, polisi, intelektual, dan birokrat menuduh itu ritual sesat. Di padepokan-padepokan, kita mulai mengerti ada masalah-masalah sulit terpahamkan berkaitan seks, uang, surga, narkoba, dan emas. Hari demi hari, kita mengikuti berita padepokan bukan dalam pengertian lama. Padepokan itu mengajak orang memikirkan tindakan-tindakan aneh. Padepokan perlahan berarti buruk, jahat, cabul, dan sesat.

Kita sejenak membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) untuk mengetahui arti semula, sebelum berantakan oleh pelbagai kasus. Dulu, penulisan di pelbagai buku dan kamus adalah pedepokan. Penulisan berubah menjadi padepokan tanpa ada perbantahan. Padepokan berarti “tempat persemadian (pengasingan diri) raja-raja di Jawa pada masa lalu” atau “sanggar seni.” Kita berhak membuka Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) susunan Eko Endarmoko untuk memastikan pengertian padepokan secara lazim. Pedepokan atau padepokan itu “atelir, bengkel (seni), sanggar, studio.” Dua referensi cenderung menuntun kita mengartikan padepokan untuk olah seni. Kebiasaan para raja masa lalu sudah jadi kenangan. Pengertian seni menguat ketimbang semedi.

Kini, padepokan itu adonan dari agama dan kejawaan, menjauh dari seni. Imbuhan agak mengagetkan adalah padepokan untuk mencari uang, memuja kenikmatan seks, dan pesta narkoba. Hasrat-hasrat duniawi dimunculkan melalui penggunaan simbol-simbol spiritual dan adat. Padepokan tak melulu untuk berlatih tari, musik, teater, atau sastra. Kita sempat mengenali para seniman besar Indonesia membangun padepokan-padepokan sebagai tempat seni.

Di Yogyakarta, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja menunaikan misi berseni, bukan klenik atau memburu serakah uang. Padepokan untuk membentuk pengalaman dan makna estetika, berjalin ke pembentukan identitas dan kepribadian tanpa harus ada ritual-ritual aneh. Ingatan atas padepokan itu terganggu akibat kemunculan padepokan-padepokan tanpa misi seni.

Penamaan tempat gampang menimbulkan kerancuan. Tempat-tempat bernama padepokan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta sulit dipastikan sesuai arti sejarah kekuasaan di Jawa atau perkembangan seni. Padepokan-padepokan itu milik orang-orang mengaku memiliki karomah, kesaktian mandraguna, dan utusan Tuhan. Mereka menjadikan padepokan untuk penguatan kharisma dan mengeruk untung besar.

Orang-orang berjumlah ratusan sampai ribuan diajak atau mengajukan diri sebagai pengikut. Cerita beraroma keajaiban dan klenik mulai memoncerkan padepokan. Orang-orang rela meninggalkan rumah demi menuruti impian-impian mustahil dan mengabdikan diri pada pimpinan berjulukan aneh. Mereka datang memberikan uang, benda, raga, dan pikiran-perasaan.

Padepokan berhasil menjadi tempat pilihan ketimbang rumah, kantor, pusat perbelanjaan, kantor pemerintah, dan tempat ibadah. Di padepokan, orang-orang berharap surga, uang, dan kenikmatan tiada tara. Padepokan untuk mengubah nasib. Padepokan itu tempat ajaib!

Barangkali para pembuat kamus bakal mengadakan perubahan dengan mengganti atau menambah pengertian lema padepokan. Pemberitaan di koran, majalah, dan televisi pantas jadi bukti pengingkaran arti dalam kamus-kamus terdahulu. Orang gampang menamakan tempat sebagai padepokan asal megah dan menggunakan simbol-simbol berdalih agama atau adat. Pemilik dan pemimpin di tempat dinamakan padepokan pun menggelari diri agar terkesan agung dan suci. Padepokan sebagai tempat menggoda orang untuk datang dan berpredikat pengikut. Hidup dan mati dipertaruhkan di padepokan setelah gagal mengurusi seribu masalah. Pengabdian atau kesetiaan pada pimpinan tak pernah luntur. Mereka berharap mentas dari masalah, tapi malah semakin jatuh ke situasi sengsara dan tersungkur di kubangan aib. Begitu. (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved