Agung Tertawa Setelah Kaki Kanannya Diamputasi: Cacat Bukan Kiamat
Menurutnya, kelebihan dan kekurangan yang diberikan Tuhan tergantung seseorang bisa memaknainya atau tidak.
Penulis: aditya dwiki sasongko | Editor: abduh imanulhaq
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Aditya Dwiki Sasongko
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Agung Setia Budi antusias memberi motivasi kepada ratusan pelajar sekolah dasar di hall Setos, Semarang, Sabtu (10/12/2016).
Dia adalah ketua panitia acara peringatan Hari Disabilitas Internasional 2016 yang berlangsung di pusat perbelanjaan terbesar.
"Tiga tahun terakhir Mas Agung pakai tongkat, jadi difabel. Sungguh berkah yang luar biasa," kata Agung.
Menurutnya, kelebihan dan kekurangan yang diberikan Tuhan tergantung seseorang bisa memaknainya atau tidak.
Bila ingin menjadi orang yang bermanfaat, Agung meminta agar jangan menyerah.
"Teman-teman penyandang difabel bukan cacat tapi unik. Bisa dibilang penyandang nekat. Maka kalau berbuat baik harus nekat, kalian akan menjadi anak hebat," kata pria berusia 40 tahun tersebut.
Berdiri dengan bantuan kruk, Agung menyatakan kaum difabel masih bisa melakukan berbagai hal.
"Difabel bukan alasan bagi kita untuk berhenti berkarya, semangat, dan berkreativitas. Cacat bukan kiamat," ucapnya.
Dia mengaku tertawa setelah kaki kanannya diamputasi.
"Tidak ada kesedihan, justru menjadi titik balik kehidupan saya menjadi lebih baik. Kalau tidak begini, mungkin saya tidak merasa seberharga ini," jelasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hari-disabilitas_20161210_232544.jpg)