Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Semarang

Cerita di Balik Tim 'Pemburu Mayat' Semarang: Pernah Kumpulkan Potongan Jenazah

Telepon dari warga bisa datang kapan saja tentang korban kecelakaan di jalan, penemuan jenazah di rumah.

|
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG//REZANDA AKBAR D.
FOTO BERSAMA - Relawan Tim Pemburu Mayat di Semarang, Mujiono Prastowo (paling kiri), Ronnie kurniawan (menggunakan topi) Heri ambon (tengah) Galih Arrega (kacamata), Marsudi yang akrab disapa Mbah Uban, Irma Rere (paling kanan) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Di usia 62 tahun, Mujiono Prastowo masih sigap menerima panggilan darurat.

Telepon dari warga bisa datang kapan saja tentang korban kecelakaan di jalan, penemuan jenazah di rumah, hingga tubuh yang sudah membusuk berhari-hari.

Ia adalah bagian dari kelompok relawan yang dikenal dengan nama “tim pemburu mayat”.

Nama itu terdengar menyeramkan. Namun bagi Mujiono, itu sekadar penyederhanaan.

Baca juga: BREAKING NEWS 12 Petugas Damkar Semarang Kena Prank DC Pinjol Buat Laporan Palsu Kebakaran Warung

Baca juga: Ratusan Hektar Tambak di Mangunharjo Terdampak Rob, Produksi Ikan Menurun

"Biar cepat dikenal saja. Intinya kami ini wadah relawan untuk membantu evakuasi korban meninggal,” ujarnya saat ditemui, Kamis (23/4/2026).

Tim tersebut baru terbentuk sekitar satu tahun terakhir. Meski begitu, aktivitas yang mereka lakukan bukan hal baru. 

Mujiono menyebut, dirinya bersama sejumlah anggota sudah lama berkecimpung dalam kegiatan evakuasi, jauh sebelum nama “pemburu mayat” digunakan.

Latar belakang mereka sebagian besar berasal dari relawan komunikasi (Bankom) di Semarang yang sudah aktif sejak awal 2000-an. 

Dari sana, mereka terbiasa turun ke lapangan, membantu penanganan kejadian darurat, termasuk kecelakaan lalu lintas.

“Dari dulu memang sudah sering ikut evakuasi. Akhirnya kita bentuk tim supaya lebih terkoordinasi,” jelasnya.

Saat ini, tim tersebut memiliki sekitar 10 anggota tetap. Mereka bergerak berdasarkan laporan warga, baik melalui komunikasi langsung maupun jaringan relawan.

Kasus yang ditangani beragam. Mulai dari kecelakaan lalu lintas dengan korban luka hingga meninggal dunia, hingga penemuan jenazah yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya.

“Pernah ada yang ditemukan sekitar 20 hari. Kondisinya sudah parah, sebagian tubuh sudah hancur,” kata Mujiono.

Dalam setiap penanganan, mereka tidak bekerja sendiri. Koordinasi dengan kepolisian, khususnya tim Inafis, menjadi prosedur utama.

“Kami hanya mengamankan lokasi dulu. Setelah olah TKP selesai, baru kami evakuasi jenazah sesuai SOP,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved