Semarang
Cerita di Balik Tim 'Pemburu Mayat' Semarang: Pernah Kumpulkan Potongan Jenazah
Telepon dari warga bisa datang kapan saja tentang korban kecelakaan di jalan, penemuan jenazah di rumah.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Di usia 62 tahun, Mujiono Prastowo masih sigap menerima panggilan darurat.
Telepon dari warga bisa datang kapan saja tentang korban kecelakaan di jalan, penemuan jenazah di rumah, hingga tubuh yang sudah membusuk berhari-hari.
Ia adalah bagian dari kelompok relawan yang dikenal dengan nama “tim pemburu mayat”.
Nama itu terdengar menyeramkan. Namun bagi Mujiono, itu sekadar penyederhanaan.
Baca juga: BREAKING NEWS 12 Petugas Damkar Semarang Kena Prank DC Pinjol Buat Laporan Palsu Kebakaran Warung
Baca juga: Ratusan Hektar Tambak di Mangunharjo Terdampak Rob, Produksi Ikan Menurun
"Biar cepat dikenal saja. Intinya kami ini wadah relawan untuk membantu evakuasi korban meninggal,” ujarnya saat ditemui, Kamis (23/4/2026).
Tim tersebut baru terbentuk sekitar satu tahun terakhir. Meski begitu, aktivitas yang mereka lakukan bukan hal baru.
Mujiono menyebut, dirinya bersama sejumlah anggota sudah lama berkecimpung dalam kegiatan evakuasi, jauh sebelum nama “pemburu mayat” digunakan.
Latar belakang mereka sebagian besar berasal dari relawan komunikasi (Bankom) di Semarang yang sudah aktif sejak awal 2000-an.
Dari sana, mereka terbiasa turun ke lapangan, membantu penanganan kejadian darurat, termasuk kecelakaan lalu lintas.
“Dari dulu memang sudah sering ikut evakuasi. Akhirnya kita bentuk tim supaya lebih terkoordinasi,” jelasnya.
Saat ini, tim tersebut memiliki sekitar 10 anggota tetap. Mereka bergerak berdasarkan laporan warga, baik melalui komunikasi langsung maupun jaringan relawan.
Kasus yang ditangani beragam. Mulai dari kecelakaan lalu lintas dengan korban luka hingga meninggal dunia, hingga penemuan jenazah yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya.
“Pernah ada yang ditemukan sekitar 20 hari. Kondisinya sudah parah, sebagian tubuh sudah hancur,” kata Mujiono.
Dalam setiap penanganan, mereka tidak bekerja sendiri. Koordinasi dengan kepolisian, khususnya tim Inafis, menjadi prosedur utama.
“Kami hanya mengamankan lokasi dulu. Setelah olah TKP selesai, baru kami evakuasi jenazah sesuai SOP,” ujarnya.
| Ratusan Hektar Tambak di Mangunharjo Terdampak Rob, Produksi Ikan Menurun |
|
|---|
| Pawai Ogoh-Ogoh Bakal Digelar di Semarang, Catat Tanggal dan Rutenya! |
|
|---|
| BRI Sisipkan Edukasi Literasi Keuangan saat Gelar Youth Champions League Semarang 2026 |
|
|---|
| Pemkot Semarang Tangani Anak Korban Pembakaran di Semarang Utara |
|
|---|
| Kasus Bella Puspita Masuk Tahap PK di Semarang, Dugaan Kriminalisasi dan Nasib Bayi Jadi Sorotan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/FOTO-BERSAMA-Relawan-Tim-Pemburu-Mayat-di-Semarang.jpg)