Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Hati Suwiryo Teriris saat Memunguti Tulang dan Tengkorak Leluhur, Ini yang Terjadi Sebelumnya

Yang menyedihkan, ada makam yang kondisi jasadnya masih baru namun terpaksa ikut dipindahkan

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
tribunjateng/khoirul muzaki
Sejumlah Makam Leluhur Banjarnegara hanyut tergerus longsor. Ahli waris memunguti tulang belulang untuk dimakamkan selayaknya 

TRIBUNJATENG.COM - Suasana haru tampak saat warga memindahkan makam leluhur mereka. Makam yang sudah berusia puluhan tahun itu terpaksa dipindah karena bencana longsor.

Longsor di Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, semakin meluas. Di Dusun Ngaliyan, Suwidak, pergerakan tanah terus terjadi dan mengancam fasilitas publik desa. Parahnya, tanah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di dusun tersebut turut tergerus longsor.

Longsor di pemakaman umum membuat warga, terutama para ahli waris miris. Satu persatu makam yang mulai terancam, dibongkar, lalu dipindahkan ke tempat yang lebih aman oleh para ahli waris.

Sejumlah Makam Leluhur Banjarnegara hanyut tergerus longsor. Ahli waris memunguti tulang belulang untuk dimakamkan selayaknya
Sejumlah Makam Leluhur Banjarnegara hanyut tergerus longsor. Ahli waris memunguti tulang belulang untuk dimakamkan selayaknya (tribunjateng/khoirul muzaki)

Suwiryo adalah ahli waris yang pertama kali memutuskan untuk memindahkan makam leluhurnya.

Mulanya ia tercengang saat beberapa waktu lalu melihat tanah di sekitar makam ambles sekitar 20 meter. "Malam hujan lebat, paginya saya melihat tanah di sekitar makam sudah ambles,"katanya

Posisi makam leluhur Suwiryo berada paling tepi, dekat dengan mahkota longsor. Suwiryo melihat sebagian cungkup kuburan telah menggantung karena tanah di bawahnya ambles. Beberapa tulang-belulang manusia bahkan menyembul lantaran tanah kuburan terkikis longsor.

Sebelum longsor kian parah, Suwiryo memutuskan untuk segera memindahkan makam leluhur.

Jika terlambat memindahkan, kata Suwiryo, makam bisa luluhlantak karena tanah terus bergerak.

Suwiryo akan lebih sulit lagi mengidentifikasi makam leluhurnya. Suwiryo merasa berdosa jika tak bisa menjaga makam leluhur.

Satu persatu makam ia gali. Suwiryo memunguti satu persatu tulang dan tengkorak leluhurnya dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam kotak kayu.

"Hati saya miris melihat kondisi makam leluhur saya tergerus longsor. Sebagai anak dan cucu, saya berkewajiban menjaganya," katanya.

Prosesi pemindahan makam itu tak ubahnya memakamkan jenazah baru. Jasad leluhur yang telah berupa tengkorak dan tulang dibungkusnya menggunakan kain mori. Ia lalu menguburkannya di lahan milik keluarga.

Seluruh keluarga ahli waris berkumpul mengitari makam. Mereka membacakan tahlil untuk mendoakan arwah leluhur dengan dipimpin kyai kampung. "Kami juga adakan pengajian di rumah untuk mendoakan leluhur kami," katanya.

Pergerakan tanah di makam kian lama semakin parah. Bekas makam leluhur Suwiryo yang telah dipindahkan kini porakporanda dan tak berwujud. Sejumlah cungkup makam dan batu nisan rusak berserakan, sebagian puingnya meluncur ke jurang.

Kondisi jembatan yang ambrol sebagian di Desa Suwidak, Wanayasa, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (3/3/2017).
Kondisi jembatan yang ambrol sebagian di Desa Suwidak, Wanayasa, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (3/3/2017). (TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI)

Para ahli waris lain mengikuti jejak Suwiryo untuk memindahkan makam leluhur. Satu persatu ahli waris membongkar sendiri makam leluhur mereka. Sebagian di antaranya, memindahkan makam leluhur mereka di TPU desa sebelah. Sebagian lain memakamkannya di lahan milik pribadi dekat rumah.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved