Hati Suwiryo Teriris saat Memunguti Tulang dan Tengkorak Leluhur, Ini yang Terjadi Sebelumnya
Yang menyedihkan, ada makam yang kondisi jasadnya masih baru namun terpaksa ikut dipindahkan
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Kepala Desa Suwidak Arif Santosa mengatakan, ada sekitar 500 makam di TPU itu.
"Kondisi tanah labil dan bergerak terus. Apalagi akhir-akhir ini hujan relatif tinggi intensitasnya," katanya, Senin (6/3).
Pemerintah desa mempersilakan warga untuk memindahkan makam leluhur mereka, mengingat pergerakan tanah di wilayah itu semakin menjadi. Menurut Arif, seluruh makam rencananya akan dipindahkan secara bertahap oleh ahli waris masing-masing.
Sejumlah ahli waris bahkan telah membongkar makam leluhur mereka dan memindahkannya di TPU lain atau lahan pribadi.
"Yang menyedihkan, ada makam yang kondisi jasadnya masih baru namun terpaksa ikut dipindahkan karena longsor," katanya.
Selain menggerus pemakaman, pergerakan tanah di wilayah tersebut menyebabkan sedikitnya 15 hektare lahan pertanian warga ambles, dengan kedalaman sekitar 5 sampai 10 meter.
Akibatnya, ribuan tanaman salak rusak, serta pepohonan Albasia yang ditanam warga di lahan itu bertumbangan. Para petani di desa terancam mata pencahariannya karena tanaman mereka rusak, serta lahan menjadi terjal dan membahayakan.
"Lahannya sudah ambles. Jangankan ditanami lagi, mendekat saja warga tidak berani karena kondisi tanah masih labil dan bergerak," ujarnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sejumlah-makam-leluhur-banjarnegara-hanyut-tergerus-longsor_20170306_154337.jpg)