Ada Baiknya Anda Melirik Usaha Pembibitan Lele, Permintaan Pasar Benar-benar Menggiurkan
Ada Baiknya Anda Melirik Usaha Pembibitan Lele, Prospek Bisnis dan Permintaan Pasar Gila-gilaan
Penulis: yayan isro roziki | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Umar Ali tampak sibuk mengawasi beberapa kolam pembibitan lele, -berbagai bentuk dan ukuran-, miliknya di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog. Belum lama ini, mengaku menerima permintaan 20 juta ekor bibit ikan lele perbulan.
Hingga kini, ia masih kewalahan, bahkan belum mampu memenuhi seperlima dari total permintaan yang cukup fantastis tersebut. Diakui, saat ini ia baru sanggup menyediakan bibit lele sekitar 3 juta ekor per bulan.
"Kebutuhan konsumsi lele sangat tinggi. Peternak yang berkecimpung dalam pembesaran lele banyak, sehingga otomatis permintaan akan bibit pun begitu tinggi. Namun, yang konsen dalam proses pembibitan masih minim," kata Umar, Minggu (7/5).
Lantaran itu, Umar tertarik untuk bergerak dalam mata rantai menghasilkan bibit lele yang berkualitas. Menurut dia, selama ini ketersediaan bibit lele di Kudus dan sekitar masih minim. Para peternak harus mendatangkan bibit dari Klaten dan Blitar, Jawa Timur.
"Itu pun, kita biasanya kebagian grade tiga. Grade satu dan dua sudah habis oleh peternak lokal di sana," ujarnya.
Melalui perusahaan yang didirikannya, PT. Saka Dwipa Agro, Umar melakukan serangkaian riset, guna menghasilkan bibit yang berkualitas dan berkesinambungan. Diakui, serangkaian riset yang mengacu kepada pola pembibitan di Belanda ini sudah berjalan enam bulan belakangan ini.
"Hal yang menjadikan pembibitan cukup susah dilakukan, adalah menjaga kualitas air. Kalau untuk pembesaran, memang tak serumit pembibitan," tuturnya.
Selain itu, menurut dia, bibit lele harus disaring agar menghasilkan ukuran yang hampir seragam. Jika tidak, maka bibit yang lebih besar akan memangsa ikan-ikan yang berukuran lebih kecil, atau biasa disebut kanibal.
"Di sini, kita ingin menghasilkan bibit berkualitas layak jual, berusia sekitar 40 hari, berkuran lima - tujuh centimeter. Bibit dengan ukuran tersebut dihargai Rp125 per ekor. Bayangkan, kalau bisa memenuhi permintaan 20 juta per ekor, berapa omzet yang dihasilkan tiap bulannya," terang dia.
Ditambahkan, ke depan ia ingin menerapkan kerjasama dengan para peternak lele, dengan sistem cluster. Dengan sistem itu akan memasok bibit lele, menyediakan obat dan pakan, serta mengajarkan cara pembesaran yang efektif.
"Nanti, kalau sudah waktunya panen, kita akan beli sesuai dengan harga pasar yang berlaku. Di Jakarta, kebutuhan konsumsi lele yang dapat dipenuhi dari para peternak di wilayah Kudus, Pati, dan Jepara, baru 10 ton per hari. Jadi, prospek beternak lele sejatinya sangat cerah," kata Umar. (tribunjateng/yayan isro roziki)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/budidaya-pembibitan-lele-di-kudus-sangat-prospek_20170507_105151.jpg)