Industri Manufaktur Besar di Jawa Tengah Turun 3,58% di Triwulan I 2017
Dari data BPS Jateng, industri manufaktur kategori besar dan sedang di Jawa Tengah mengalami penurunan pada triwulan I-2017 sebesar 3,58 persen
Penulis: m zaenal arifin | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM - Produsen rokok golongan III, PR Kembang Arum Kudus, mengeluhkan peredaran rokok ilegal atau tanpa cukai. Menurut mereka, maraknya rokok ilegal melemahkan industri manufaktur pengolahan tembakau sehingga sulit berkembang.
Pengusaha rokok PR Kembang Arum Kudus, Peter M Faruk mengatakan, secara umum, produksi rokok PR Kembang Arum Kudus meningkat 300 bal pada 2015 menjadi 600 bal atau 1,4 juta batang per bulan pada 2016. "Dari 2015 ke 2017 produksi rokok memang meningkat. Tapi, sejak 2017 awal, untuk meningkat lagi sulit karena banyak rokok tanpa cukai," kata Peter kepada Tribun Jateng, Senin (8/5).
Itu sebabnya, dia minta petugas bea dan cukai memperketat pengawasan dan razia rokok ilegal di pasar. "Jika rokok ilegal itu ditindak dan diberantas, kami yang legal bisa menambah produksi," ucapnya.
Tak hanya peredaran rokok ilegal, Peter mengatakan, produksi rokok kelas IIIA--yang dihasilkan 10 juta-300 juta batang per tahun--menurun karena kenaikan tarif bea cukai. Sejak awal 2017, Peter mengatakan, tarif pita cukai naik menjadi Rp 5.600 per lembar dan menyebabkan pajak rokok menjadi 9,1 persen dari sebelumnya 8,7 persen pada 2016.
"Tentu, dampaknya, harga jual eceran (HJE) juga naik dari Rp 3.500 per bungkus menjadi Rp 4.500 per bungkus," ujarnya.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, industri manufaktur kategori besar dan sedang di Jawa Tengah mengalami penurunan pada triwulan I-2017 sebesar 3,58 persen dibanding triwulan IV-2016.
Kabid Statistik Produksi Industri Manufaktur Kecil, Menengah, dan Besar BPS Jateng, Totok Tavirijanto mengatakan, industri manufaktur yang mengalami penurunan cukup besar pada triwulan I yaitu industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional yang turun 10,32 persen.
"Industri manufaktur pengolahan tembakau turun 9,61 persen, industri logam dasar turun 9,63 persen, dan industri minuman turun 9,30 persen," kata Totok.
Sedangkan kelompok industri manufaktur yang mengalami kenaikan yaitu industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya naik 9,24 persen. Kemudian, industri furnitur naik 8,95 persen, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia naik 8,05 persen, serta pengolahan lainnya naik 8,40 persen.
Sedangkan untuk industri manufaktur mikro dan kecil, secara umum mengalami kenaikan 0,22 persen dari triwulan IV tahun 2016. Kelompok yang naik cukup besar yaitu jasa reparasi dan pemasangan mesin naik 12,87 persen, logam dasar naik 11,01 persen, dan peralatan listrik naik 8,98 persen.
"Sedangkan kelompok manufaktur mikro dan kecil yang turun yaitu alat angkutan 3,70 persen, kayu dan barang dari kayu 3,00 persen, serta industri pengolahan lainnya turun 4,98 pesen," jelasnya. (tribunjateng/cetak/nal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kepala-kppbc-kudus-suryana-dan-kapolress-kudus-agusman-gurning_20170421_125804.jpg)