Ramadan 2017

Menilik Masjid Rahmat Tertua di Surabaya, Kemegahan Bermula dari Atap Jerami

Menilik Masjid Rahmat Tertua di Surabaya, Kemegahan Bermula dari Atap Jerami. Lantunan ayat suci Alquran sayup terdengar di seantero Masjid Rahmat

Menilik Masjid Rahmat Tertua di Surabaya, Kemegahan Bermula dari Atap Jerami
tribunjateng/antara
Menilik Masjid Rahmat Tertua di Surabaya, Kemegahan Bermula dari Atap Jerami. Lantunan ayat suci Alquran sayup terdengar di seantero Masjid Rahmat 

TRIBUNJATENG.COM - Lantunan ayat suci Alquran sayup terdengar di seantero Masjid Rahmat, kawasan Kembang Kuning, Surabaya, saat Surya.co.id berkunjung ke sana beberapa hari lalu. Selama bulan suci, masjid tertua di Kota Surabaya itu tak pernah sepi dikunjungi umat Islam untuk beribadah.

Masjid Rahmat terbilang megah. Jauh sebelum kemerdekaan sekitar abad ke 14, bentuknya sama sekali tidak semegah sekarang.

Masjid tempat Raden Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat menyebarkan agama Islam di Tanah Surabaya ini dulunya hanyalah masjid tiban.

Jejak masjid tiban itu tak banyak bisa dilihat saat ini. Tetapi jika masuk ke dalam masjid, ada empat pilar besar. Empat pilar itulah yang dulunya adalah empat tiang penyangga masjid tiban itu.

"Masjid Rahmat adalah masjid tertua di Surabaya. Dulu bukan masjid seperti ini, hanya gubuk surau tiban. Atapnya hanya dari bambu dan jerami," ucap Syafii, pengurus Yayasan Masjid Rahmat.

Ihwal berdirinya masjid tiban ini dimulai Raden Rahmat atau Sunan Ampel baru tiba dari Majapahit. Sebelum sampai di Ampeldento, ia melintas di Kembang Kuning melalui Sungai Brantas yang ada di depan Masjid Rahmat. Hanya dengan perahu kecil, ia lantas memutuskan singgah.

Di sini, putra Maulana Malik Ibrahim atau Asmoro Qondhi memutuskan untuk menyebarkan agama Islam. Sesuai dengan tradisi zaman dahulu siapa yang ingin bertahan di suatu wilayah, maka ia harus pandai berduel.

"Raden Rahmat pun berduel adu kesaktian dengan Mbah Wirasoeroyo, tokoh Kembang Kuning yang berjuluk Ki Mbang Kuning. Saat itu beliau masih beragama Hindu," ujar Syafii.

Duel itu menunjukkan kemampuan Raden Rahmat. Ia memenangkan duel yang cukup alot itu. Mbah Wirasoeroyo takluk dan mau memeluk Islam.

Mbah Wirasoeroyo mengangkat Raden Rahmat menjadi menantu dengan menikahkannya dengan putrinya, Karimah. Di surau inilah Raden Rahmat berdakwah mengajarkan ajaran agama Islam.
Ia mengajarkan warga Kembang Kuning tentang Allah dan Nabi Muhammad.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved