Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

SEA Games 2017

API DALAM SEKAM, Dulu Presiden Soekarno Anggap Malaysia sebagai Boneka Inggris

API DALAM SEKAM, Dulu Presiden Soekarno Anggap Malaysia sebagai Boneka Inggris.Dua negara ini memang bertetangga dekat dan punya banyak kemiripan.

Tayang:
Editor: iswidodo
NET
PRESIDEN SOEKARNO sang PROKLAMATOR 

TRIBUNJATENG.COM - Dua negara ini memang bertetangga dekat dan punya banyak kemiripan. Tapi sering berseteru baik terpicu oleh hal kecil maupun masalah besar hingga hubungan dua negeri serumpun ini memanas.

Adalah Malaysia paling mirip dengan Indonesia. Sama-sama negeri mayoritas berpenduduk muslim, bahasanya masih serumpun, bahkan beberapa pulau gandeng alias dimiliki oleh dua negara, hanya berbatas patok, misal di Kalimantan Utara.

Meski berbatasan darat dan laut, Malaysia bukanlah negara paling erat hubungannya dengan Indonenesia. Sejak zaman perjuangan, dua negeri ini sering berseteru. Terpancing masalah sedikit saja, maka emosi Indonesia dan Malaysia meluap-luap. Sebut saja insiden kesalahan pencetakan buku panduan, bendera RI terbalik di buku SEA Games 2017.

Seorang mayor Inggris memberi arahan kepada para pajuritnya untuk menghadapi pasukan Indonesia yang menyusup ke Tawau, Sabah, Kalimantan Utara, Maret 1965.
Seorang mayor Inggris memberi arahan kepada para pajuritnya untuk menghadapi pasukan Indonesia yang menyusup ke Tawau, Sabah, Kalimantan Utara, Maret 1965. (getty image)

Dunia tahu bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih, bukan putih merah. Maka mengherankan dan mencurigakan jika Malaysia mencetak buku panduan itu tertera bendera Putih Merah. Rakyat Indonesia pun bereaksi, menuding itu sebagai kesengajaan untuk menghina Indonesia dan menteror mental atlet Indonesia. Meski Malaysia segera meminta maaf secara resmi. Dan pemerintah Indonesia sudah memaafkan.

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi insiden-insiden yang awalnya kecil, atau bisa dipandang sebagai hal sepele, berkembang jadi sentimen anti Malaysia yang luar biasa.

Perlakuan buruk terhadap TKI yang bekerja di Malaysia beberapa kali mendapat sorotan, namun tetap gemanya berbeda jika yang jadi masalah adalah hal-hal simbolik.

Beberapa tahun lalu bahkan sebagian warga Indonesia memplesetkan nama Malaysia menjadi 'Malingsia', merujuk tudingan bahwa Malaysia 'mencuri' dengan menampillkan sejumlah budaya yang diyakini sebagai budaya Indonesia, dalam iklan wisata negeri itu.

Dua 'harta budaya' yang muncul dalam iklan Visit Malaysia Year, iklan untuk menarik kunjungan wisatawan ke Malaysia, adalah Reog Ponorogo dan dalam kesempatan lain, lagu Rasa Sayange.

Dan dipuncaki dengan kekalahan hukum dan politik Indonesia terkait sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan.

Para seniman reog Ponorogo menuding Malaysia mengklaim kesenian mereka.
Para seniman reog Ponorogo menuding Malaysia mengklaim kesenian mereka. (getty image)

"Namun ketegangan Indonesia dan Malaysia sudah berakar jauh lebih lama," kata sejarawan Bonnie Triyana.

Pemimpin redaksi Historia, majalah sejarah di Indonesia itu menambahkan, masalah bermula, ketika pada tahun 1963, Malaya yang merdeka 1957 menjadi Federasi Malaysia, atau Malaysia sekarang minus Singapura, dengan bergabungnya bekas jajahan Inggris lain: Singapura, Brunei, Sabah dan Sarawak yang berada di Kalimantan Utara.

"Soekarno tidak suka, karena ada kelompok di dalam Kalimantan Utara yang ingin kawasan itu bergabung dengan Indonesia," kata Bonnie pula.

Presiden Soekarno menganggap Malaysia adalah boneka Inggris.

"Sukarno memandang federasi Malaya adalah proyek imperialisme Inggris di wilayah Asia Tenggara. Itu tak sejalan dengan cita-cita Soekarno terutama sejak pelaksanaan KAA 1955," tambah Bonnie.

Soekarno kemudian melancarkan politik Konfrontasi di bawah apa yang disebut Dwi Komando Rakyat alias Dwikora, yang komando keduanya adalah, 'bantu perlawanan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, Sabah, dan Brunei,' untuk membubarkan negara Malaysia.

Soekarno mengerahkan para sukarelawan yakni para milisi, yang dikirim ke Sarawak dan Sabah untuk melakukan sabotase. Soekarno mempopulerkan slogan konfrontasi saat itu: Ganyang Malaysia.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved