Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

SEA Games 2017

API DALAM SEKAM, Dulu Presiden Soekarno Anggap Malaysia sebagai Boneka Inggris

API DALAM SEKAM, Dulu Presiden Soekarno Anggap Malaysia sebagai Boneka Inggris.Dua negara ini memang bertetangga dekat dan punya banyak kemiripan.

Tayang:
Editor: iswidodo
NET
PRESIDEN SOEKARNO sang PROKLAMATOR 

Konfrontasi dengan Malaysia mereda seiring jatuhnya Soekarno tahun 1965. Hubungan Indonesia-Malaysia mengalami normalisasi lewat Soeharto. Tapi sepertinya masih ada 'api dalam sekam' antara dua negara serumpun ini.

Betapa pun, kata Bonnie, ketegangan Indonesia Malaysia sesudah itu hanya berupa kegaduhan-kegaduhan saja. Tak mengarah pada konfrontasi apalagi perang.

Berikut beberapa 'api dalam sekam' yang sempat meletup dalam hubungan Indonesia-Malaysia.

Hukum gantung WNI di Malaysia

Malaysia menerapkan kebijakan keras untuk perkara narkotika dan obat-obatan, yang dikenal sebagai dadah di sana. Sebagian besar terpidana dijatuhi hukuman mati.

Sejak akhir 1990-an, hukuman gantung untuk perkara-perkara ini marak di Malaysia, termasuk terhadap sejumlah warga Indonesia yang dinyatakan sebagai pengedar, yang sebagian di antarnya disebut-sebut hanya dijebak.

Namun warga Indonesia yang digantung di Malaysia bukan hanya karena kasus narkoba, melainkan juga untuk perkara kejahatan lain, seperti perampokan dengan kekerasan dan pembunuhan, serta sengketa buruh atau PRT dengan majikan yang berujung pembunuhan.

Muncul juga laporan-laporan tentang perlakuan kejam yang dialami TKI di Malaysia.

Berbagai protes dilancarkan dari berbagai kalangan Indonesia. Namun sebagian besar hukuman gantung tetap dijalankan.

Warga Indonesia merupakan mayoritas dari pekerja asing di Malaysia. Sekitar satu juta orang Indonresia tercatat sebagai pekerja resmi, namun ratusan ribu lagi merupakan pekerja gelap atau imigran gelap.

Istilah Malaysia untuk imigran tak berdokumen resmi ini adalah 'pendatang haram,' yang memunculkan rasa bahasa 'menghinakan bagi orang Indonesia'.

Lebih-lebih lagi, beberapa kalangan Malaysia menyebut orang-orang Indonesia di sana, ratusan ribu, bahkan lebih dari sejuta pekerja dan bahkan pelajar atau mahasiswa, sebagai Indon. Atau orang Indon.

Istilah praktis yang juga dirasa menghinakan oleh banyak kalangan Indonesia. Sebagaimana nada merendahkan di Inggris, jika menyebut keturunan Pakistan sebagai Paki.

Istilah Indon menurut banyak orang Malaysia, sekadar menyingkat saja, tanpa nada menghina. Kadang petugas Imigrasi, saat memeriksa wartawan dari Indonesia, berkata, 'Oh dari Indon,' tanpa nada memojokkan.

Namun berbagai sengketa, dan banyaknya istilah Indon terutama ketika ada pembicaraan tentang pidana yang dilakukan oleh orang Indonesia, membuat banyak orang Indonesia menganggap Indon merupakan istilah yang memojokkan.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved