Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

SEA Games 2017

API DALAM SEKAM, Dulu Presiden Soekarno Anggap Malaysia sebagai Boneka Inggris

API DALAM SEKAM, Dulu Presiden Soekarno Anggap Malaysia sebagai Boneka Inggris.Dua negara ini memang bertetangga dekat dan punya banyak kemiripan.

Tayang:
Editor: iswidodo
NET
PRESIDEN SOEKARNO sang PROKLAMATOR 

Dimunculkanlah istilah balasan untuk balik merendahkan Malon, yang dalam berbagai perbincangan disebut merupakan kepanjangan dari Malaysia bloon.

Sipadan-Ligitan

Ini mungkin bibit sengketa paling serius sejak normalisasi hukubungan kedua negara, dua negara saling klaim kepulauan Sipadan-Ligitan. Setelah bertahun-tahun saling gertak dan bersitegan akhirnya kedua pihak sepakat menyerahkan penyelesaiannya kepada Mahkamah Internasional.

Menyedihkan memang. Indonesia kalah. Mahkamah Internasional menetapkan kawasan Sipadan Ligitan merupakan bagian dari kedaulatan wilayah Malaysia, pada 17 Desember 2002.

Kasus ini membuat Indonesia jadi lebih sensitif setiap kali ada saling klaim wilayah. Misalnya saat ada ketegangan sekitar Blok Ambalat pada 2005.

Histeria anti-Malaysia menemukan bentuknya yang lain tatkala pada 2007 muncul lagu Rasa Sayange pada sebuah iklan pariwisata Malaysia. Muncul kehebohan, menuduh Malaysia mencuri harta budaya Indonesia.

Disusul kemudian pemunculan reog ponorogo, tari lilin, dan tari pendet dalam film-film iklan wisata Malaysia yang lain -yang sebagian tidak dibuat oleh perusahaan Malaysia.

Sebelumnya muncul juga tuduhan bahwa Malaysia hendak mengklaim batik sebagai milik Malaysia, karena ada sebuah perusahaan Malaysia yang mempatenkan sebuah motif batik ciptaan mereka.

Histeria lain muncul tatkala ada kalangan Mandailing Malaysia yang menyerukan agar tari Tortor khas batak diakui sebagai warisan budaya dunia.

Yang menarik, histeria itu terkadang menghinggapi pejabat pula.

Pada tahun 2007, misalnya, menteri kebudayaan dan parawisata Jero Wacik mengirim surat protes khusus dan mengatakan bahwa 'Malaysia berulah lagi,' terkait pemunculan tari pendet.

Bahkan ia diberitakan menyerukan warga Indonesia untuk tidak berlibur ke Malaysia.

Dari kasus-kasus yang dituding oleh beberapa kalangan di Indonesia sebagai 'pencurian budaya' itu muncul sebutan 'Malingsia' yang menghinakan, terlepas dari benar tindakan tudingan-tudingan itu.

Dan sekarang, histeria anti-Malaysia marak lagi. Setelah kasus pencetakan bendera secara terbalik, beredar posting tentang penelantaran kontingen Indonesia oleh panitia SEA Games 2017, misalnya ihwal makanan mereka. (bbc)

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved