Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Melihat Kerajinan Tudung Saji dari Bambu di Mandiraja, Banjarnegara

Mereka menghadap bambu yang telah dipotong kecil-kecil dan rapi, juga tali dari pelepah tanaman untuk mengikat anyaman

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Suwarso menunjukkan produk jadi aneka kerajinan bambu di dusun Bantar desa Kertayasa Mandiraja 

Tampah menjadi satu di antara kerajinan alat dapur tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran produk modern pabrikan.

Berbeda dengan tudung saji, bahan untuk membuat tampah adalah bambu tali yang harganya lebih murah. Sebuah tampah jadi ukuran sedang dijual ke tengkulak seharga Rp 15 ribu.

"Dari nenek moyang dulu sudah buat tampah, turun temurun. Kerajinan taji lebih baru menyesuaikan permintaan,"katanya

Kepala Dusun Bantar Kertayasa Suwarso mengatakan, terdapat sekitar 780 Kepala Keluarga (KK) di desa Kertayasa yang satu atau beberapa anggota rumah tangganya berprofesi sebagai pengrajin bambu.

Kebanyakan kerajinan yang dibuat adalah perlengkapan rumah tangga, antara lain tudung saji, wakul, tampah, hingga besek atau piti.

Menurut Suwarso, industri kerajinan bambu untuk perlengkapam dapur tidak ada matinya. Ia tetap memiliki pasar tersendiri di tengah persaingan pasar global yang melahirkan banyak produk perlengkapan rumah tangga berbahan sintetis.

Selain Jawa, pemasaran kerajinan bambu dari desa Kertayasa hingga sampai ke luar Jawa, antara lain Kalimantan dan Sulawesi.

"Dari segi permintaan pasar tak ada masalah. Alat dapur tradisional berbahan bambu tetap diminati,"katanya

Tingginya permintaan dan produktivitas kerajinan bambu di wilayah itu berhasil menghidupkan sebuah pasar khusus menampung kreasi pengrajin di desa Kertayasa.

Pasar tiban yang buka dua kali dalam sepekan itu merupakan ajang transaksi bagi para pengrajin dengan tengkulak dari luar daerah yang datang untuk kulakan.

Meski permintaan produk tinggi, posisi tawar pengrajin rupanya tetap lemah. Suwarso menyayangkan, pengrajin selama ini lebih banyak dipermainkan oleh tengkulak lantaran posisi tawar yang rendah.

Musim kemarau seharusnya menjadi berkah bagi pengrajin lantaran permintaan meningkat yang berpengaruh terhadap kenaikan harga barang. Namun, berkah itu rupanya hanya dinikmati oleh tengkulak.

Mereka biasa memborong barang pengrajin saat musim penghujan dengan harga rendah, lalu menyimpannya sebagian di gudang hingga kemarau datang.

"Oleh tengkulak nanti ditahan dan dijual saat kemarau. Kemarau permintaan tinggi dan transportasi pengiriman lebih mudah karena tidak terkendala hujan,"katamya

Pengrajin, menurut dia, merupakan ujung tombak produksi yang mestinya punya andil dalam menentukan harga.
Pengrajin bisa ikut bersiasat agar ikut merasakan untung yang selama ini lebih banyak dinikmati tengkulak.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved