Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Para Pengusaha Konveksi Pemalang Keluhkan Lesunya Pesanan Jeans, Ini Saran Ganjar

Adapun, jeans yang ia produksi bermerek Navala yang dijual hingga Jakarta, Surabaya, Solo, dan beberapa daerah di Kalimantan

Penulis: m nur huda | Editor: muslimah
Tribun Jateng/M Nur Huda
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mengunjungi sentra konveksi Jeans dan Pakaian Kerja di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Rabu (27/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, PEMALANG - Sejumlah pengusaha konveksi Jeans dan Pakaian Kerja di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, mengeluhan lesunya bisnis yang sudah mereka kembangkan sejak puluhan tahun lalu.

Jika di tahun 2000-2003 usaha mereka sedang berada di puncak kejayaan, kini produksi mereka hanya mengandalkan pesanan dari luar daerah yang jumlahnya tak sebanyak dahulu.

Salah satu pengusaha konveksi asal Rowosari, Masykuri mengatakan, di tahun 2000 hingga 2003 mampu menjual hingga 500 potong celana jeans per hari. Saat itu selain banyaknya order juga karena kondisi ekonomi tidak stabil atau naik turun.

Sementara saat ini, dia hanya mampu menjual maksimal 100 celana dengan harga jual berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu.

"Kala itu banyak yang memilih jeans lokal," ungkapnya saat menerima kunjungan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di desa sentra konveksi tersebut, Rabu (27/9/2017).

Adapun, jeans yang ia produksi bermerek Navala yang dijual hingga Jakarta, Surabaya, Solo, dan beberapa daerah di Kalimantan. 

Selain persoalan internal, Masykuri mengaku problem lainnya adalah karena maraknya industri konveksi pabrikan. Tenaga kerja yang sudah terampil dan puluhan tahun mengabdi di tempatnya, akhirnya memilih keluar dan bekerja di pabrik. Saat ini, dia hanya memiliki 50 pekerja, padahal sebelumnya mencapai ratusan.

"Harga kain yang tak menentu, persoalan tenaga kerja juga membuat kami pusing," ungkapnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, menyarankan pada pengusaha konveksi  untuk memanfaatkan aplikasi Sadewa Market Cyber UMKM milik Pemperov Jateng.

Pasalnya, pemasaran yang dilakukan para pengusaha konveksi masih menggunakan cara konvensional. Sedangkan saat ini, sudah memasuki era digital.

"Masih ada problem permodalan, cara menjual, rata-rata menjualnya masih konvensional maka kita arahkan ke Sadewa Market Cyber UMKM," kata Ganjar saat mengunjungi sentra konveksi di Desa Rowosari, Rabu (27/9/2017) .

Ia mengatakan, di daerah ini ada 21 klaster dan telah memunculkan industri level desa dan penjualannya pun telah sampai ke seluruh daerah di Indonesia. Yang masih perlu dikembangkan adalah mengorganisasi diri dalam satu komunitas melalui koperasi.

"Ada permintaan pelatihan, pembuatan desain, dan lainnya. Kalau ini bisa diorganisasikan maka akan jadi kekuatan ekonomi yang tumbuh dari desa," katanya.

Menurutnya, memang perlu peremajaan mesin untuk mengembangkan industri ini. Kemudian perlu inovasi desain dan diversifikasi usaha, karena produksinya masih hanya berupa celana jeans, belum ada produksi pakaian perempuan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved