Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kreatif, Mainan Tradisional Ini Dimanfaatkan Petani Banjarnegara untuk Usir Hama Tikus

"Paling tidak anak-anak itu suka kembali dengan dolanan tradisional. Ini untuk mengalihkan mereka dari pengaruh buruk game kekinian,"katanya

Penulis: khoirul muzaki | Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI
Riyanto, pengrajin kitiran asal desa Pagak Kecamatan Klampok menunjukkan kincir angin hasil karyanya yang dibuat secara sederhana dari bahan bambu 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Siang, (2/10/2017), Areal persawahan di tepi desa Pagak, Klampok lengang.

Para petani sudah meninggalkan sawah mereka dan beristirahat di rumah.

Meski sepi orang, sawah itu tetap ramai karena bunyian.

Suara ketukan kaleng terdengar cukup nyaring bersamaan dengan tiupan angin kencang di persawahan.

Semakin kencang angin berhembus, puluhan kincir angin atau kitiran bambu yang berdiri di sudut sawah itu berputar kian cepat.

Baca: Gojek Bakal Ekspansi ke Empat Negara

Kaleng yang terpasang di belakang baling-baling otomatis terketuk lebih keras mengikuti perputaran kitiran.

Riyanto, pengrajin kitiran asal desa Pagak Kecamatan Klampok menunjukkan kincir angin hasil karyanya yang dibuat secara sederhana dari bahan bambu
Riyanto, pengrajin kitiran asal desa Pagak Kecamatan Klampok menunjukkan kincir angin hasil karyanya yang dibuat secara sederhana dari bahan bambu (TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI)

"Kalau anginnya semakin kencang, berputarnya kian cepat dan bunyi yang dihasilkan semakin keras,"kata pengrajin kincir angin asal desa Pagak Klampok Riyanto, Senin (2/10)

Gerakan baling-baling mengikuti arah angin serta bunyian yang dihasilkan ternyata menarik perhatian para bocah.

Saat siang atau sore hari selepas sekolah, sejumlah anak desa menyerbu sawah untuk melihat permainan tradisional itu sembari menerbangkan layang-layang.

Tawa riang mereka kadang kalah ramai dengan suara angin dan ketukan kaleng kitiran.

Menurut Riyanto, tradisi membuat kincir angin di desa Pagak telah berlangsung lama.

Baca: Cerita Prilly Latuconsina Tanggapi Hatersnya dengan Sikap Begini

Namun lambat laut permainan itu kian ditinggalkan karena tergerus roda zaman.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved