Meriahnya Peringatan Pertempuran Lima Hari di Kota Semarang, Ada Drama Perang hingga Kirab Batik
Ribuan masyarakat Semarang tumplek blek memenuhi kawasan Tugu Muda Semarang pada Sabtu (14/10/2017) malam.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: bakti buwono budiasto
Selain drama kolosal, sejumlah pemuda di Kampung bati punya cara unik memperingati Pertempuran Lima Hari di Kota Semarang.
Mereka mengelilingi Kampung Batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur,
Sabtu (14/10).
Selain kirab, mereka juga melakukan prosesi siraman dengan memanfaatkan air sumur yang berada di tengah kampung itu.
Satu di antara peserta Luluk Noer Aini (35) mengatakan, mengikuti kirab merupakan hal baru bagianya. Menurut dia, kegiatan itu adalah untuk mengingat sejarah yang terjadi di Kota Semarang.
"Kami senang karena punya pengalaman baru dengan kirab batik. Karena ini baru pertama kali dilakukan. Saya harap hal seperti ini digelar lagi tahun mendatang," ujarnya.
Ketua Paguyuban Kampung Batik, Eko Haryanto mengatakan, selain sebagai peringatan Pertempuran Lima Hari. Lantaran saat Pertempuran Lima Hari, kata dia, lokasi Kampung Batik sekarang ini terbakar.
Selain itu, kirab juga merupakan rangkaian festival batik.
"Kampung batik ini terbarkar pada 17 Oktober 1945. Saat terbakar api dipadamkan dengan air di sumur yang berada di tengah Kampung Batik," terang dia.
Batik yang dikirab para pemuda tersebut berukuran 66 meter. Sedangkan motifnya, ucap Eko, yakni Parang Asem Baris dan Jagat Semarangan. (tribunjateng/rtp)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/aksi-teatrikal-pertempuran-lima-hari-di-semarang_20171014_214426.jpg)