Liputan Khusus
CUACA BURUK! Inilah Cara Nelayan Mampu Bertahan Hidup
Kondisi kayak gini nelayan tetap berani melaut, tapi paling hanya dua kilometer dari daratan. Sebab ombaknya besar sampai tiga meteran
Meski kondisi cuaca tidak bersahabat, menurut Ali para nelayan lain di kampung nelayan Tambaklorok tetap pergi mencari ikan meski hanya bisa berlayar di jarak maksimal dua kilometer.
"Kalau nggak cari ikan, kami mau makan apa. Ya tetap harus memberanikan diri melaut," imbuh Muali yang telah menjadi nelayan sejak usia remaja.
Tak memberi izin
Para nelayan di Juwana, Pati, juga tak berani melaut sejak Jumat (1/12). Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pati, Rasmijan mengatakan Syahbandar pelabuhan Juwana tak memberi izin berlayar sejak Jumat pekan lalu.
Hal itu lantaran kondisi laut yang sedang tidak bersahabat.
"Sejak tanggal 1 Desember kemarin, hingga kemungkinan sampai 5 Desember mendatang, nelayan tak diizinkan berangkat melaut oleh Syahbandar," kata Rasmijan.
Disampaikan, sebelum tanggal 1 beberapa kapal telah berangkat melaut. Namun, kini, lantaran cuaca yang sedang tidak memungkinkan, mereka menepi dan mencari tempat bernaung terlebih dahulu.
"Kapal yang gede saja nyari tempat berlindung, apalagi kapal-kapal kecil, otomatis tak bisa melaut," ucapnya.
Menurut dia, pasokan ikan di Juwana tetap ada. Dikatakan, ikan-ikan tersebut berasal dari kapal-kapal nelayan yang telah melaut saat gelombang masih bersahabat.
"Ya kapal-kapal yang berangkat sebulan lalu kan sudah pada pulang, sehingga persediaan ikan tetap ada," ujar dia.
Selain itu, diakui, harga ikan mengalami sedikit kenaikan. Tak ada lonjakan harga yang signifikan. "Ya naik dikit, paling cuma seribu rupiah per kilogramnya, gak ada lonjakan," akunya.
Lantaran tak diperbolehkan melaut, aktivitas para nelayan saat ini hanya berbenah. Misalnya, memperbaiki kapal atau jaring, yang digunakan untuk menangkap ikan sehari-hari.
Sementara tak melaut, otomatis tak ada pendapatan yang bisa diandalkan. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, para nelayan mengandalkan uang simpanan dari sisa hasil melaut sebelumnya.
"Jika tak punya simpanan ya andalkan pinjeman dulu, mau bagaimana lagi," tuturnya.
Disinggung total jumlah nelayan di Pati saat ini, Rasmijan, tak dapat memastikan. Yang jelas, menurut dia, jumlahnya diperkirakan lebih dari 10.000 jiwa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/nelayan_20171204_070125.jpg)