Andon Asmoro Masih Bertahan, Toko Kaset yang Masih Tersisa di Salatiga
Kaset pita pernah mengalami masa kejayaan di waktu lampau. Kini, Hanya segelintir pedagang kaset yang tersisa.
Penulis: ponco wiyono | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA – Kaset pita pernah mengalami masa kejayaan di waktu lampau. Kini di tengah derasnya arus perubahan zaman, hanya segelintir pedagang kaset yang tersisa.
Di kawasan Shopping Center Kota Salatiga salah satunya, Ken Adam Soemarno (73) memilih tetap menekuni usaha ini sebagai kegiatan pengisi hari tua.
Sapaan lelaki bertubuh kecil tersebut adalah Pak Ndon, diambil dari kata Andon Asmoro yang merupakan nama kios kaset tersebut.
Menurutnya, kawan-kawan pedagang memilih nama panggilan itu agar lebih mudah diingat. Pak Ndon berdagang kaset sejak tahun 1977 dan mulai menempati kawasan Shopping Center sejak 1982.
"Dulu saya berjualan di pinggir jalan, sampai terminal ini diubah jadi kawasan perdagangan. Masa-masa toko ramai adalah ketika VCD dan playstation belum ada," urai Pak Ndon kepada Tribun Jateng, pada Rabu (10/1).
Ribuan kaset koleksi Pak Ndon dari berbagai aliran dan tahun rilis masih tertata di etalase dan rak kaset kiosnya. Khusus rak kaset, lelaki beralamat di Kampung Pungkursari, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo itu ditata sesuai abjad.
Mulai dari A sampai Z, pembeli tinggal menariknya untuk menemukan album yang dicari.
Di rak tersebut, pengunjung toko masih bisa mendapatkan album band pop laris 1990an semacam Potret, Padi, hingga Michael Learns To Rock dan Backstreet Boys.
Sementara untuk koleksi yang lebih lama lagi, Toko Kaset Andon Asmoro juga masih menyimpan album Keroncong Asli rilisan Lokananta.
Masih ada banyak koleksi kaset berbagai aliran, yang tampak usang karena turut termakan waktu. Guna meyakinkan pembeli jika kaset tersebut masih bisa diputar, seperangkat pemutar kaset juga disiapkan Pak Ndon di dalam toko.
Di satu etalase, sederet kaset untuk konsol gim nintendo dan sega jaman dulu juga masih tersedia. Pak Ndon mendapatkan koleksi tersebut dari kolektor dan pedagang kaset lain.
"Ada kolektor yang sudah bosan, atau ada yang memang bisnis loakan dan kaset-kaset yang ia dapat disortir lalu dijual ke saya," jelas lulusan STM Dr Cipto tahun 1961 ini.
Mengakui bisnis kaset sudah memasuki masa senjakala, Pak Ndon mengatakan kini ia sudah berhenti menerima pasokan barang lagi.
Lelaki yang berjualan ditemani istrinya, Rahayu ini ingin menghabiskan stok barang sebelum beralih ke usaha lain.
"Sempat terpikir berdagang hape bekas, tapi sepertinya lebih beresiko. Sementara ini masih belum terpikir lagi, dan kalau pun kaset saya tak lagi dibeli, kios ini masih bisa dipakai istri," katanya menunjuk Rahayu yang sedang sibuk menjajakan sayur mayur di pelataran kios.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/toko-kaset-andon-asmoro-salatiga_20180110_131757.jpg)